Jakarta, Harian Umum- Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (GEPRINDO) Bastian P Simanjuntak meminta para elit di Tanah Air untuk menindak tegas sejumlah lembaga survei yang dinilai ngawur dalam melakukan quick count (QC) atau hitung cepat Pilkada serentak 2018.
"Elit tidak boleh lemah dalam merespon hasil survei yang ngawur dari beberapa Lembaga Survei yang memonopoli pemberitaan di media mainstream Indonesia. Kesalahan mereka kali ini sangat fatal dan tidak bisa di tolerir," katanya melalui siaran tertulis seperti dikutip harian umum.com, Minggu (1/7/2018) malam.
Ia menilai, ulah para lembaga survei itu sudah meresahkan masyarakat dan mengotori jalannya demokrasi.
"Hasil survei ngawur yang mendominasi media mainstream bisa mengakibatkan kegaduhan yang bisa meluas kepada kekerasan sosial. Hati-hati, rakyat sudah sangat marah dengan perilaku lembaga-lembaga survei yang selama ini telah memanipulasi data dan fakta," katanya.
Bastian juga mengingatkan, selain dapat menimbulkan kegaduhan, hasil survey yang dimanipulasi juga dapat mengakibatkan rakyat menjadi tidak percaya pada hasil Pemilu dan akhirnya berimplikasi pada kurangnya legitimasi rakyat kepada siapapun yang memenangkan pesta demokrasi itu.
"Bagi siapapun yang menjunjung tinggi demokrasi yang bersih, harus serius mempersoalkan lembaga survei yang ngawur hingga ke meja hijau. Kemudian, untuk mencegah dampak negatif akibat hasil survei yang ngawur, maka para elit harus melakukan tindakan kongkrit untuk mendorong investigasi terhadap oknum lembaga survei dengan mengaudit sumber data yang mendasari hasil survei tersebut," katanya.
Tak hanya itu, Bastian juga meminta agar tim yang dibentuk elit nasional untuk menginvestigasi para lembaga survei itu, juga harus menelusuri sumber pembiayaan lembaga-lembaga itu, karena patut diduga ada pihak-pihak tertentu yang membiayai, dimana indikasinya adalah hasil survei yang seperti sebuah orkestra, seperti ada yang mengarahkan.
"Kesalahannya kompak," tegas dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, Warganet menuding sejumlah lembaga survei telah memanipulasi data quick count, sehingga hasil hitung cepat mereka itu menempatkan pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) sebagai pemenang Pilgub Jabar. Padahal mereka yakin pemenang kontestasi ini adalah pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik).
"Hati2 dengan data Quick Count (QC) untuk Jabar, infonya ada yang aneh. Menurut info dari tim saksi, pasangan no 3, Asyik menang, tapi data quick count si RK (Ridwan Kamil, red) yang menang. Tetap kawal hasil pilkada!! jangan sampai KPUD masuk angin lagi," kicau akun @RullyMania seperti dikutip harianumum.com, Jumat (29/6/2018).
Akun akun @abduhji2110 dan @Ireneviena juga mempersoalkan hasil survei lembaga-lembaga itu karena sepekan sebelumnya, lembaga-lembaga itu menyebut kalau tingkat keterpilihan (elektabilitas) Syaikhu hanya 7-8%, namun hasil QC mereka setelah hari pencoblosan pada Rabu (27/6/2018), perolehan suara pasangan yang diusung Gerindra, PKS dan PAN tersebut ternyata menyentuh 30%.
Berikut datanya:
Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum
LSI : 32,62%
Indikator : 33,96%
Poltracking : 31,89%
Indobarometer : 32,22%
TB Hasanuddin-Anton Charliyan
LSI : 13,05%
Indikator : 11,55%
Poltracking : 12,91%
Indobarometer : 12,92^
Sudrajat-Ahmad Syaikhu
LSI : 27,88%
Indikator : 29,33%
Poltracking : 27,84%
Indobarometer : 28,54%
Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi
LSI : 26,45%
Indikator : 25,16%
Poltracking : 27,36%
Indobarometer : 26,31%
Persentase data suara masuk:
LSI : 86,22%
Indikator : 82,67%
Poltracking : 93,8%
Indobarometer : 85,33%
"Rilis survei elektabilitas pilgub jabar 3 hari jelang hari H, semuanya berkisar di angka 7-8% utk ASYIK. Hasil QC kisaran angka 29-31%. Dalam waktu 3 hari banyak yang berubah haluan? Ga mungkin! Artinya, lembaga surveinya sajikan data yang keliru. Sengaja? Yang jelas hasil QC ga bisa dipercaya," kata akun @abduhji2110.
Pemilik akun @Ireneviena mengaku, saat pencoblosan pihaknya sempat memantau beberapa TPS di Bogor, Depok dan Bekasi. Dari 11 TPS yang dipantau, dimana 3 berada di Bogor, 4 di Depok, dan 4 di Bekasi, pasangan Asyik menang di 9 TPS, Ridwan 1 TPS, Deddy 1 TPS.
"Namun, mendadak kaget ketika menjelang pukul 17.00 mayoritas QC menampilkan hasil sample bahwa Ridwan Kamil unggul dari Sudrajat. Terus terang kami sempat sedikit down. Kami mulai cermati secara teliti hasil QC tersebut. Info mulai masuk, pola kelihatan makin jelas," katanya.
Akun ini mengaku, setelah ditelusuri, lembaga yang melakukan QC Pilkada Jabar yang memenangkan Ridwan Kamil adalah lembaga yg sama yang menyatakan bahwa elektabiltas Ridwan unggul dan Sudrajat jeblok pada 6 bulan sampai dengan seminggu sebelum Pilkada.
"Lembaga yang hasil surveinya sudah terbukti keliru," tegas dia.
Keyakinan warganet bahwa hasil QC keempat lembaga survei itu telah dimanipulasi, seolah mendapatkan pembenaran karena hasil QC dua lembaga survei yang lain, yakni Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) dan Indonesia Development Monitoring (IDM), memenangkan pasangan Asyik.
LKPI mengklaim berdasarkan data dari 2.780 TPS di Jawa Barat, hasil QC-nya sebagai berikut:
1. Ridwan Kamil - UU Ruzhanul 30,41%
2. TB Hasanuddin -Anton Charliyan 11,17%
3. Sudrajat -Ahmad Syaikhu 30,93%
4. Deddy Mizwar- Dedi Mulyadi 27,49^
Sementara hasil QC IDM menyebut, berdasarkan data dari 3.573 TPS di Jabar dengan margin error +/- 1,6 persen dan tingkat kepercayaan 95%, berikut hasilnya:
1. Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum 32,67%
2. TB Hasanuddin – Anton Charliyan 9,43%
3. Sudrajat – Syaikhu 33,12%
4. Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi 24,78%
Lembaga-lenbaga survei yang dipermasalahkan itu, pada Pilkada DKI 2017 juga merilsi data bahwa berdasarkan hasil survei mereka, pasangan Ahok-Djarot akan memenangi Pilkada, namun yang menang ternyata Anies-Sandi. (rhm)






