Jakarta, Harian Umum - Kader Partai Demokrat merespon dengan keras pernyataan yang pernah disampaikan Manko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan terkait maraknya tuntutan perubahan dari masyarakat.
Pernyataan Luhut itu antara lain disampaikan pada 14 Juni 2023 di sela-sela Jakarta Geopolitical Forum ke-7.
Kala itu, kepada Media, Luhut mengatakan bahwa Indonesia telah menemukan pola untuk masuk kelompok negara berpenghasilan tinggi (high income country), karena kebijakan seperti hilirisasi industri yang dilakukan pemerintah merupakan salah satu resep terwujudnya pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk bisa mencapai high income country.
"Sekarang kita sudah ketemu pattern (pola) untuk menjadi negara high income country, itu saya kira bisa kita lakukan, karena juga dari segi demografi bonus, kekayaan alam, downstream industry, digitalisasi, kemudian dana desa, itu ingredients daripada untuk membuat Indonesia hebat," katanya.
Karena hal itu, Luhut berharap presiden selanjutnya meneruskan resep yang dimiliki Indonesia untuk menjadi high income country. Jika tidak fokus pada resep tersebut, tujuan itu tidak akan tercapai.
"Saya berharap siapapun presiden ke depan harus melakukan ini, tidak usah bicara perubahan lah, bagaimana menyempurnakan, mempercepat proses ini, supaya generasi kalian juga bisa nanti melihat itu, karena kalau tidak kita fokus pada pekerjaan ini, belok-belok, nanti tidak jalan," katanya.
Melalui sebuah video berdurasi 2 menit 3 detik yang beredar di media sosial, dan diberi tagline Jiwa Demokrat, Suara Kader, Senin (24/7/2023), kader Demokrat mengkritik keras Luhut Panjaitan.
Dalam video itu, kader partai berlambang Mercy itu menilai, Luhut tak ingin perubahan karena hidupnya sangat enak di era pemerintahan Jokowi karena swlain jabatannya banyak, juga perusahaannya banyak, sehingga harta kekayaannya melimpah.
Kader Demokrat mengistilahkan kehidupan Luhut sekarang ini sebagai hidup yang terlalu lemak.
Berikut kritik kader Demokrat dalam video itu, sebagaimana dikutip dari narasi yang disampaikan;
Pak Luhut Tak Butuh Perubahan
Bukan sekali dua kali Luhut Binsar Panjaitan membuat sentilan bahwa pemerintah sudah berada di jalur yang benar. Karena itu ia meminta semua pihak tak usah lagi bicara tentang perubahan.
Sebenarnya tak perlu data untuk membantah Pak Luhut. Seandainya saja ia mau berjalan kaki 1 kilometer dari rumahnya ke arah Menteng Pulo di mana dia akan ketemu pangkalan Ojol dan karyawan mall, di situ dia akan ketemu jawaban sederhana kenapa rakyat butuh perubahan, yaitu betapa telanjangnya kesenjangan.
Sebuah riset terbaru CNBC Indonesia Inteligence Unit pemimpin Muhammad Maruf membuka kardus Pandora kesenjangan itu. Setengah kekayaan di negeri ini hanya dikuasai 0,02% populasi di mana para penikmat tertingginya adalah para cukong tambang yang kekayaannya melonjak tajam dua tahun terakhir.
O,02 persen itu di antaranya Anda, Pak Luhut, yang punya hektaran batubara, sawit, minyak, gas, listrik. Juga teman-teman Anda di kabinet dan partai politik.
Parahnya, sebagian besar cukong itu berkantor di Singapura di mana 90% dana hasil ekspor tidak pulang ke Indonesia. Sementara itu, APBN tidak mengucur ke bawah, terkonsentrasi membiayai proyek-proyek raksasa. Inilah yang membuat ekonomi kurang darah, likuiditas kering, suku bunga mencekik, rakyat susah dapat kredit.
Parahnya lagi, Indonesia mengalami booming komoditas tambang, tapi pendapatan negara dari sektor itu bahkan masih kalah dari pendapatan retribusi administrasi.
Saat yang sama, upah tertinggi buruh Indonesia hanyalah setengah dari Thailand dan Malaysia di mana ada 70% buruh yang penghasilannya hanya Rp 2,4 juta dalam sebulan. Mau makan apa dengan uang segitu?
Wajarlah kalau kini hidup kita dibanjiri oleh iklan Pinjol yang omsetnya mencapai ratusan triliun rupiah. Itu karena ada jutaan orang yang mengalami darurat untuk makan hari ini. Sebab itu butuh pinjaman seratus dua ratus ribu rupiah.
Wajar pula kini marak orang menjual ginjalnya keluar negeri, termasuk merajalelanya begal dan kriminal. Sebab.ketika orang sudah putus asa, nyawa sudah tak ada lagi harganya.
Ini adalah suara kader Partai Demokrat. Mungkin Anda benar, Pak Luhut, Anda tak butuh perubahan karena jabatan Anda terlalu banyak, dan hidup Anda terlalu lemak (man)





