Jakarta, Harian Umum - Bill Gates memperingatkan bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat memicu serangan siber berskala besar pada tahun depan (2027), karena aktor-aktor jahat telah mendapatkan akses ke model AI yang semakin canggih.
Ia menjelaskan, serangan itu dapat mengacaukan sistem keuangan, memeras perusahaan, dan melancarkan serangan siber yang semakin canggih.
"Ketika ada orang-orang jahat, tanpa LPP perlindungan, dan didukung model AI terbaru, di situlah pada tahun depan terutama di ranah siber, kita akan menghadapi banyak kejutan negatif," kata Gates dikutip dari CNN, Selasa (13/10/2026).
Peringatan Gates ini muncul ketika para peneliti keamanan siber melaporkan adanya lonjakan tajam dalam ancaman yang didukung oleh AI.
Menurut Global Threat Report 2026 dari CrowdStrike, serangan yang menggunakan kemampuan AI meningkat 89% secara tahunan di 2025. Sementara itu, waktu rata-rata bagi hacker untuk bergerak secara lateral di dalam jaringan yang telah disusupi turun drastis menjadi hanya 29 menit.
Gates menjabarkan potensi motivasi finansial di balik serangan-serangan siber, termasuk skema pemerasan dan kekacauan yang sengaja dirancang untuk memanipulasi pasar keuangan maupun hasil perjudian.
"Sektor yang kemungkinan akan kita lihat perubahannya secara paling dramatis pada tahun depan adalah serangan siber. Sebab, di sana sudah ada model bisnis yang jelas. Misalnya, Anda mengancam akan melakukan sesuatu, lalu menuntut tebusan, atau Anda menciptakan kekacauan yang berdampak pada pasar saham maupun pada hal-hal terkait perjudian," jelas Gates.
Menanggapi peringatan itu, ahli strategi dari Partai Demokrat, Oliver Libby, menilai peringatan Gates menjadi tantangan yang akan dihadapi oleh para pembuat kebijakan di tengah kemajuan AI, sementara Amerika Serikat berusaha mempertahankan daya saing teknologinya.
"Tantangan besar bagi para inovator dan pemerintah dalam beberapa bulan mendatang adalah menyeimbangkan kemajuan AI yang berkelanjutan dengan regulasi cerdas. Para pemimpin yang mampu menjaga keseimbangan ini, memastikan Amerika tak tertinggal namun juga tidak ada warga terabaikan, akan memenangkan kepercayaan publik," katanya.
Libby menyerukan adanya pendekatan regulasi yang terkoordinasi untuk mengatasi risiko keamanan AI, sekaligus mempersiapkan warga Amerika menghadapi dampak ekonomi AI yang lebih luas.
"Regulasi harus fokus pada standar federal dan internasional, tanggung jawab platform, hukuman untuk kejahatan siber dan deepfake, keselamatan anak, serta memastikan masyarakat ikut menikmati manfaat ekonomi dari revolusi teknologi masif ini sembari mulai mempersiapkan masyarakat menghadapi kemungkinan disrupsi tenaga kerja sangat besar," tegas Libby. (man)






