Jakarta, Harian Umum- Direktur Center For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, sedang dihujani kritik dan hujatan oleh sesama aktivis yang selama ini justru merupakan rekan-rekannya sendiri.
Pasalnya, pekan lalu sejumlah media merilis berita yang isinya menuduh Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) tidak memperlihatkan kinerja apa pun, namun mendapat anggaran yang sangat besar dari Pemprov DKI Jakarta.
Salah satu berita itu berjudul "Anies Beri Dana Rp2,2 Miliar, Pengamat Sebut FKDM Tidak Perlihatkan Kinerja", dan dalam berita itu posisi Uchok sebagai narasumber.
"Uchok kurang memahami dan mengerti prosedur proses Penyusunan RAPBD berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 58 Tahun 2005 tentang Pegelolaan Keuangan Daerah dan UU 13 Tahun 2013," ujar Direktur Indonesia For Transparancy and Acountability (INFRA) Agus Chairuddin kepada pers di Jakarta, Senin (20/11/2017).
Selain hal tersebut, Agus juga menganggap Uchok tidak paham dan kurang mengerti perbedaan antara Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) dengan APBD berdasarkan Perda dan Pergub.
"Saya menduga kuat penyataan Uchok dalam berita itu lebih disebabkan karena order dari pengusaha hiburan malam dan kepentingan pribadi," katanya.
Agus menegaskan, berdasarkan keterangan yang ia dapat dari pengurus-pengurus FKDM, anggaran Rp2,2 miliar yang masuk dalam RAPBD 2018 tersebut, bukan usulan FKDM, melainkan usulan Badan Kesatuan Bangsa dan Poltik (Bakesbangpol) kepada Tim Penyusun Anggaran Daerah (TPAD) Pemprov DKI, karena mempertimbangkan pentingnya LSM ini mendapatkan pelatihan-pelatihan mengingat peran dan fungsinya sebagai intel Pemprov.
"FKDM sendiri katanya nggak tahu kalau diusulkan untuk mendapatkan anggaran sebesar itu," imbuhnya.
Agus juga menyesalkan, karena sebagai aktivis yang telah lama malang melintang di bidang anggaran, Uchok seharusnya lebih cermat dalam memberikan statemen, dan sebelum merilis sesuatu, hendaknya didahului dengan riset.
"Saya tahu persis kalau pernyataan Uchok bahwa FKDM tidak memperlihatkan kinerja apa pun, itu salah besar. Karena peran mereka cukup penting saat Pilkada DKI 2017 kemarin yang begitu sarat dengan dinamika, dan itu diakui dan diapresiasi oleh Bakesbangpol," tegasnya.
Agus berharap lain kali Uchok lebih cermat dan lebih profesional dalam bertindak.
"Saat ini anggota FKDM yang jumlahnya 3.800 lebih itu marah banget sama dia. Kalau nggak dicegah oleh para pemimpinnya, nggak tahu sudah jadi apa tuh si Uchok," jelas Agus.
Seperti diketahui, dalam berita itu Uchok meminta Gubernur Anies Baswedan mengevaluasi anggaran FKDM yang pada APBD 2017 sebesar Rp1,7 miliar, dalam RAPBD 2018 naik menjadi Rp2,2 miliar karena forum yang seharusnya menjadi mata dan telinga bagi gubernur ini, dinilai tidak menunjukkan kinerja apapun.
“Saya masih bertanya-tanya apa sih prestasi dari FKDM sehingga anggarannya begitu besar? Saya kira menaikkan anggaran itu harus berdasarkan asas kebutuhan ataupun prestasi,” kata Uchok.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, selain Agus, Ketua Gerakan Oposisi untuk Anies-Sandi (GONTAS) Sugiyanto dan Ketua Forum Bersama Jakarta (FBJ) Budi Siswanto telah lebih dulu mengkritik dan menghujat Uchok dengan meneleponnya secara langsung.
Agus menyarankan, agar masalah tidak berkepanjangan, Uchok hendaknya segera meminta maaf kepada FKDM.
"Saya yakin kalau Uchok mau mengakui kesalahannya, anggota FKDM akan memaafkannya," pungkas dia. (rhm)







