Jakarta, Harian Umum - Jagat media sosial dihebohkan oleh beredarnya video yang memperlihatkan munculnya sebuah daratan baru pasca letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, baru-baru ini.
Dalam video tersebut, antara lain diposting akun X @yadistira, disebutkan bahwa daratan baru itu berada di antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung.
Kemunculan daratan baru itu memicu spekulasi, salah satunya adalah bahwa daratan tersebut menjadi cikal bakal gunung api baru atau yang dijuluki "Cucu Krakatau".
Terpisah, seperti dilansir kompas.com, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Suwarno, mengatakan bahwa luas hamparan daratan baru itu diperkirakan mencapai sekitar 30,3 hektar.
"Ya, itu hasil dari letusan kemarin, luasnya kurang lebih 30,3 hektare. Keberadaan daratan baru itu sudah kami ketahui dan masih masuk dalam pemantauan aktivitas rutin di sekitar tubuh Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung," katanya.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono melalui akun X-nya menjelaskan, daratan itu bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yg mengendap di laut.
"Proses penumpukan ini berlangsung bertahap, seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut, hingga akhirnya endapan menyembul ke permukaan air," katanya.
Selain hal tersebut, Daryono juga menjelaskan bahwa terbentuknya daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung itu dipengaruhi oleh kombinasi faktor geologis dan oseanografis. Dasar laut di area kaldera purba sisa letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 tergolong dangkal, sehingga material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi.
Selain itu, lontaran piroklastik dan aliran lava selama erupsi dominan terlempar ke arah sektor tersebut.
"Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda juga berperan penting sebagai pemindah sedimentasi yg membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yg lebih tenang hingga mengendap secara permanen," imbuhnya.
Apakah daratan ini bisa membesar atau justru lenyap kembali?
Menurut mantan Direktur Gempabumi dan 6 BMKG ini, jawabannya sangat bergantung pada pertarungan antara aktivitas vulkanik dan erosi alam.
"Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan tersebut makin meluas. Ketahanannya akan makin kokoh apabila terlapisi lava cair yang membeku menjadi batuan keras," jelas Daryono
Sebaliknya, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yang belum padat hingga tenggelam kembali. Longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini dalam waktu singkat.
Agar suatu daratan dapat dikategorikan sebagai gunung api baru yg berdiri sendiri, lanjut Daryono, terdapat 3 syarat geologis utama yang harus dipenuhi.
Pertama, daratan tersebut harus memiliki saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru, terpisah dari kawah induknya.
Kedua, daratan itu wajib menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga.
Ketiga, harus terdapat struktur geologis serta deformasi sendiri, yaitu adanya aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.
Menghadapi fenomena ini, Daryono mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu spekulatif yang beredar di media sosial. Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif.
"Langkah paling bijak yang perlu dilakukan adalah selalu menyaring informasi melalui sumber resmi yang berwenang, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Dengan memahami sains di balik fenomena ini, kita dapat tetap tenang, tidak panik, dan selalu mematuhi rekomendasi jarak aman yang ditetapkan oleh petugas di lapangan," pungkas Daryono. (rhm)






