Jakarta, Harian Umum - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memperlihatkan aktivitas yang tidak biasa, bahkan disebut Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) sebagai sebuah fenomena.
Pasalnya, anak gunung yang induknya meletus dengan sangat dahsyat pada tahun 1883 itu menunjukkan erupsi yang terus menerus.
Terakhir, menurut data Badan Geologi, gunung yang masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan itu kembali meletus pada Jumat (4/9/2026) tengah malam hingga Sabtu (5/9/2026) dinihari. Di antara letusan gunung setinggi 288 meter dari atas permukaan laut itu ada yang terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 70 mm dan durasi 0 detik, tepatnya pada pukul 00:01 WIB.
"Erupsi berlangsung selama beberapa jam, disertai gemuruh dan semburan merah menyala menyerupai lava fountain," kata Badan Geologi di akun X-nya.
Dikutip dari siaran badan di Kementerian ESDM itu yang diterbitkan Sabtu (5/9/2026), aktivitas Gunungapi Anak Krakatau diamati melalui 2 pos pengamatan gunungapi yang berlokasi di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung; dan Pos di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
"Catatan sejarah tahun 1883 adalah peristiwa erupsi besar yang menghasilkan tsunami. Selain itu, goncangan gempabumi memicu erupsi Anak Krakatau dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau yang menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda pada 22 Desember 2018," kata Badan Geologi.
Setelah 22 Desember 2018, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunungapi Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023.
Gunungapi itu sempat tertidur cukup lama, sebelum kembali erupsi pada tanggal 2 Juli 2026.
'Sejak itu, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga tanggal 5 September 2026," kata Badan Geologi lagi.
Pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh, hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 04.40 WIB, masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK.
Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus. Fenomena erupsi ini menyerupai “lava fountain” atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava.
"Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan," kata Badan Geologi lagi.
Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Meskipun demikian, kata Badan Geologi, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif.
'Hingga saat ini, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau masih dalam Level III (Siaga). Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai dengan lontaran batu pijar," kata Badan Geologi.
Berikut rekomendasi teknis Level III (Siaga) Gunungapi Anak Krakatau yang dikeluarkan Badan Geologi untuk masyarakat di mana gunung itu berada:
1. Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau
2. Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
3. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.
4. Untuk mengetahui informasi dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan G. Krakatau (0254) 651449 atau 085846324506 di Pasauran (Provinsi Banten).
Masyarakat, pemerintah daerah, dan instansi terkait dapat memantau perkembangan aktivitas dan rekomendasi Gunungapi Anak Krakatau melalui aplikasi/website Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (www.vsi.esdm.go.id), Magma Indonesia (https://magma.esdm.go.id), dan media sosial Badan Geologi (Facebook, X, dan Instagram), serta website Badan Geologi (www.geologi.esdm.go.id).
(rhm)


