Jakarta, Harian Umum - Tim Media Sosial (medsos) pasangan calon (paslon) Gubernur DKI Jakarta dan Wakil Gubernur DKI Jakarta memiliki cara tersendiri menangkal serangan negatif atau black Campaign yang ingin memojokan figur paslon di mata warga Ibukota.
Tim medsos paslon petahana Ahok-Djarot, Hariadi mengatakan pihaknya lebih memilih tidak membalas serangan yang memojokan Ahok-Djarot. "Kita sering mendapat serangan di medsos. Tapi kita membiarkan saja tidak membalas serangan tersebut," kata Hariadi saat menjadi pembicara diskusi publik dalam rangka perayaan Dies Natalis ke-56 Universitas Prof DR Moestopo (Beragama) dengan tema "Demokrasi Kebangsaan di Republik Sosial Media", di Bokoel Caffe Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (23/3).
Hariadi melanjutkan pihaknya lebih mengedepankan memperkenalkan program-program yang akan dijalankan Ahok-Djarot jika terpilih kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta periode mendatang. “Kita menampilkan sisi keberhasilan pasangan Ahok-Djarot yang sudah nyata-nyata dirasakan oleh warga Jakarta,” kata Haryadi.
Mengenai banyak beredarnya isu-isu tidak benar alias hoax yang kerap beredar di medsos, Hariadi mengklaim jika pihaknya tidak pernah menyebarkan berita hoax. Dan adanya isu hoax yang menerpa Ahok-Djarot pun menurut Hariadi, tidak pernah menguntungkan kubu Ahok-Djarot. "Kalau kita menyebarkan kebohongan tentu akan berdampak pada paslon. Dan itu bisa mengikis kepercayaan warga pada pemimpin yang akan dipilihnya. Dan harus kita akui juga jika banyak berita hoax yang disebarkan pihak tak bertanggung jawab. Dan kita belum pernah mendapati adanya berita hoax menguntungkan paslon Ahok-Djarot," terang Hariadi.
Pernyataan yang senada disampaikan Thomas Musa. Derasnya kampanye hitam yang dialamatkan kepada pasangan Anies-Sandi tidak direspon dengan kata-kata kasar yang justru menjadi bumerang. “Mas Anies dan Bang Sandi tidak pernah membalas kampanye hitam di medsos. Beliau berdua selalu memasankan kepada kita agar terus santun, menanggapi serangan dari pihak lawan,” kata Musa.







