Jakarta, Harian Umum- Plt Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Sigit Wijatmoko mengklaim bahwa pihaknya tidak memiliki kerja sama dengan PT Trans 1000 Jakarta Transportindo, sehingga tak tahu menahu tentang rencana pengoperasian 16 kapal perusahaan itu dan pengenaan tarifnya yang mencapai Rp75.000/penumpang.
"Saat ini Dishub konsen pada dokumen perencanaan," katanya usai rapat pendalaman APBD Perubahan 2018 di Komisi DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (27/9/2018).
Ia menyebut ada dua dokumen yang sedang dikerjakan pada 2018 ini, yakni Rencana Induk Pelabuhan dan Masterplan Transportasi. Kedua dokumen ini antara lain mencakup masalah alur pelayaran, jenis kapal, dan mekanisme tarif.
"Jadi, kita belum ada kerjasama dengan perusahaan itu, dan pengajuan tarif dari perusahaan itu ke Dishub juga belum ada," katanya.
Ketika ditanya apakah Dishub juga belum tahu bahwa pada Oktober 2018 mendatang 16 kapal Trans 1000 akan beroperasi? Sigit mengiyakan. Ia bahkan mengatakan kalau secara fisik, kapal-kapal itu belum ada.
Ketika ditanya apakah itu berarti Trans 1000 akan beroperasi secara ilegal di perairan Kepulauan Seribu? Sigit mengatakan, ia tak bisa mengatakan begitu.
"Tapi pada prinsipnya, konsep Dishub adalah menghadirkan transportasi yang mengacu pada kelayakan dan keselamatan," tegasnya.
Ketika dimintai penjelasan oleh Komisi B saat rapat berlangsung, Sigit memberikan keterangan yang tak jauh berbeda. Bahkan dia menegaskan, karena belum ada kerjasama dengan PT Trans 1000, maka tidak ada monopoli di perairan Kepulauan Seribu.
Seperti diberitakan sebelumnya, penduduk Kepulauan Seribu dan pengusaha kapal tradisional sedang resah karena setelah 16 kapal milik PT Trans 1000 beroperasi pada Oktober 2018, kapal-kapal tradisional yang selama ini beroperasi di perairan Kepulauan Seribu, yang berjumlah 42 unit, akan diremajakan menjadi kapal kargo karena ke-16 kapal tersebut merupakan kapal pengganti kapal-kapal tradisional itu.
Hal ini diketahui berdasarkan pernyataan Direktur Utama PT Trans1000 Nana Suryana sebagaimana dimuat sejumlah media pada 17 September 2018. Dalam pemberitaan itu, Nana mengatakan bahwa ke-16 kapal Trans1000 yang mulai dioperasikan pada Oktober 2018 akan menggantikan kapal tradisional, karena kapal tradisional akan diremajakan dan disiapkan untuk mengangkut barang (kapal kargo).
Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta) Kepulauan Seribu, Tobaristani, mengatakan, pernyataan Nana itu mengindikasikan kalau Trans 1000 akan memonopoli bisnis lapal laut di Kepulauan Seribu, sehingga kapal tradisional dihilangkan dengan dijadikan sebagai kapal kargo.
Indikasi lain, kata dia, adalah fakta bahwa saat ini Trans 1000 telah membangun loket di pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, seperti di Pulau Pramuka, Pulau Tidung, Pulau Pari dan Pulau Kelapa, sehingga ada kesan kalau masyarakat pulau akan dipaksa untuk menaiki kapal perusahaan itu jika ingin menyeberang ke darat (Jakarta), dan tak boleh lagi naik kapal tradisional.
"Yang membuat masyarakat resah, tarif yang dikenakan Trans 1000 mahal sekali. Jauh lebih tinggi dari tarif kapal tradisional," katanya.
Ia menyebut, Trans 1000 mematok tarif Rp75.000/penumpang, dan tarif ini dikenakan mulai penumpang berusia 2 tahun, sementara tarif kapal tradisional hanya Rp35.000/penumpang untuk warga pulau, dan Rp54.000/penumpang untuk wisatawan atau tamu.
"Masyarakat resah karena mayoritas dari mereka hanya berprofesi sebagai nelayan," katanya.
Berdasarkan data dari trans1000jakarta.com, diketahui kalau PT Trans 1000 Jakarta Transportindo merupakan mitra Pemprov DKI dalam rangka menyukseskan Program OK-OTRIP
"PT Trans 1000 Jakarta melalui Prgram OK-OTRIP Pemerintah Propinsi DKI Jakarta untuk meremajakan secara bertahap seluruh KMP (Kapal Motor Penyebrangan, red) Tradisional/kapal ojek yang selama ini menjadi salah satu moda angkutan masyarakat/wisatawan dari Dermaga Kali Adem, Muara Angke menuju pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu Jakarta. Peremajaan seluruh KMP tradisional rencananya akan menjadi KMP Trans 1000 Jakarta dan dipastikan dapat menjamin keamanan, keselamatan dan kenyamanan penumpang dalam pelayaran dengan sistem operasional pelayanan yang terintegrasi dan modern," demikian pernyataan yang dikutip dari website tersebut.
Di website ini terdapat slide yang berisi foto-foto, di antaranya terdapat foto petinggi Trans 1000 dengan mantan Wagub Sandiaga Uno dan pejabat Dishub.
Ketika diklarifikasi soal keterkaitan antara PT Trans 1000 dengan Program OK-OTRIP, Sigit mengaku tak tahu.
Ketika ditanya apakah pernah membuka website perusahaan itu? Plt Kadishub yang juga menjabat sebagai wakil Kadishub ini mengatakan tidak pernah. (rhm)






