Jakarta, Harian Umum - Direktur Eksekutif Budgeting Metropolitan Watch (BMW) Amir Hamzah menilai, kiriman bunga ke Balaikota menjelang berakhirnya masa bakti Djarot Syaiful Hidayat sebagai gubernur DKI Jakarta, sebaiknya dihentikan krn tidak mendidik masyarakat secara politik.
"Kalau mengacu pada teori Sun Tzu, pengiriman karangan bunga dari para pendukung Ahok-Djarot itu seolah-olah ingin unjuk kekuatan, dan ini juga dapat dibaca bahwa kemenangan Anies-Sandi di Pilkada 2017 kemarin telah membuat mereka ketakutan, sehingga mereka kini sibuk "mencari teman"," katanya kepada harianumum.com di Jakarta, Rabu (11/10/2017).
Ketakutan itu, jelas Amir, merupakan imbas dari perilaku mereka sendiri selama perhelatan Pilkada DKI 2017 kemarin, yang cenderung memaksakan target politik yang diemban, sehingga hanya maunya Ahok-Djarot yang menang dan kembali berkuasa untuk periode kedua.
Klaim bahwa mereka kelompok yang paling toleran, terbukti merupakan kelompok yang intoleran. Bahkan mereka juga terbukti tidak dapat menerima kekalahan.
Perilaku itu, tegas Amir, menunjukkan ketidakdewasaan para pendukung Ahok-Djarot dalam berpolitik. Padahal Anies-Sandi telah menegaskan bahwa jika mereka terpilih menjadi gubernur periode 2017-2022 melalui Pilkada DKI, mereka akan menjadi gubernur dan wagub bagi seluruh warga Jakarta.
"Jadi, pendukung Ahok-Djarot tak perlu menjadi paranoid," tegasnya.
Amir meyakini kalau dengan perilaku pendukung Ahok-Djarot yang seperti ini, perjalanan Anies-Sandi mengelola pemerintahan Jakarta setelah dilantik pada 16 Oktober 2017, takkan mudah.
"Lihat saja, sekarang saja ocehannya sudah macam-macam. Antara lain dg menuntut agar janji-janji kampanye Anies-Sandi dibuktikan. Padahal dilantik saja belum," tegasnya lagi.
Amir menduga ratusan karangan bunga untuk Ahok-Djarot yang sejak Selasa (10/10/2017) membanjiri Balaikota DKI, bukan dari perorangan, melainkan karena ada pengepul atau bandarnya.
Ia merujuk pada pengiriman bunga ke Balaikota pasca kekalahan Ahok-Djarot di Pilkada, yang ternyata sudah dipesan sebelumnya untuk merayakan kemenangan Ahok-Djarot. Namun karena pasangan yg diusung koalisi PDIP ini kalah, kata-kata pada karangan bunga disesuaikan dengan kekalahan Ahok-Djarot.
Amir menduga hal ini karena tak sedikit dr karangan bunga itu yang terdiri dari satu nama, seolah dibeli secara patungan.
"Mereka (bandar) tentu punya database pendukung Ahok-Djarot. Jadi, tinggal dipakai saja," pungkasnya. (rhm)







