TANGSEL, HARIAN UMUM - Salah satu korban dugaan penyerobotan lahan di wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Kaharudin mengungkap bahwa kota itu bertajuk Cerdas, Modern dan Religius adalah kota yang penuh dengan sengketa lahan.
Hal itu diutarakan Kaharudin karena kesalahpahaman dalam masalah lahan, yang disinyalir merupakan keterlibatan pemerintah.
"Tangsel itu kota sengketa tanah. Karena sampai saat ini banyak sekali pertanahan yang disinyalir memerlukan negara aparatur. Banyak mafia tanah di Tangsel." kata Kaharudin saat mendatangi Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD Kota Tangsel, Kamis (28/11/2019).
Kaharudin tidak hadir sendiri. Tetapi hadir bersama keempat korban 'mafia tanah' lainnya.
Seperti yang diinformasikan sebelumnya, Iwan Mercy yang menerima haknya diambil oleh Pemkot Tangsel mengaku akan terus memperjuangkan warisan dari kakeknya yang bernama Kairin Bin Galing.
Lokasi tanah yang diatasnya adalah Puskesmas Cirendeu tersebut, kata Iwan, merupakan tanah sah yang dimiliki oleh Girik C 162 blok 9.S III nomor persil 130 seluas 11.150 m2.
"Puskesmas Cirendeu itu berdiri di atas tanah engkong (kakek) saya. Jadi bukan aset Pemkot Tangsel. Saya akan berhasil terus mendapatkan hak saya," kata Iwan.
Hal serupa diakui Sutarman, korban penyerobotan tanah yang bersengketa dengan Sinarmas. Sutarman menyatakan, Camat Serpong Mursinah (Kasat PolPP saat ini) tidak dapat menunjukkan akta jual beli pada lokasi miliknya.
"Sekarang sudah membangun perumahan Puspita Loka, padahal saya tidak pernah menjual kepada siapa pun, kok bisa membangun perumahan. Waktu itu juga saya minta akta jual belinya sama Camat (Mursinah), tapi dia ngga bisa nunjukin tuh aktanya. Ya karena memang ngga pernah saya jual . Tapi saya heran, itu perumahan Puspita Loka bisa ngebangun arti apa? " kata Sutarman.
Kelima korban tersebut, didampingi oleh Forum Koban Mafia Tanah Indonesia (FKMTI) saat mendatangi PSI DPRD Kota Tangsel. Alexander Prabu, anggota Fraksi PSI menyatakan akan membantu perihal pertentangan aduan yang diterima saat ini.







