PETRUK BERKUASA dengan serat pratandha milik orang lain, dan menjalankan sistem yang dirancangnya sendiri. Namun, ia kemudian ditipu Bagong dengan "memperalat" Lesmono Mondrokumoro.
-------------------------
Oleh: Zulkifli S. Ekomei
Aktivis Kebangsaan
Penasaran dengan keberhasilan Petruk menjadi ratu selama satu dekade, saya memberanikan diri menemuinya. Saya menyebutnya memberanikan diri, karena tahu risiko menghadapnya. Sejak menjadi ratu, banyak orang datang ke Karang Tumaritis membawa harapan, keluhan, atau sekadar ingin didengar. Namun, setelah pulang, mereka kerap dituduh telah menjual diri, seolah-olah setiap orang yang mendekati singgasana pasti telah menukar harga dirinya.
Petruk membuka pembicaraan dengan pengakuan bahwa sebetulnya ia tidak memenuhi syarat untuk menjadi ratu. Ia tidak memiliki serat pratandha, karena tidak pernah menamatkan masa berguru, apalagi lulus dalam ujian. Maka, ia mencari serat pratandha milik orang lain, lalu mengenakannya seperti jubah kebesaran yang kebesaran di bahu, tetapi cukup untuk menutupi tubuh yang tak siap memikul mahkota.
Dengan bermodalkan serat pratandha tersebut, Petruk dibantu para satria yang bersedia menanggalkan kehormatannya, menjadi punggawa, bahkan cantrik. Mereka menundukkan kepala di hadapan singgasana, bukan karena takzim, melainkan karena berharap suatu hari dapat berdiri di bawah bayang-bayang kekuasaan. Di istana itu, punggung yang membungkuk dianggap kesetiaan, sementara tulang belakang yang tegak dicurigai sebagai pemberontakan. Berkat dukungan merekalah Petruk berhasil menjadi ratu.
Selama satu dekade memimpin kerajaan, Petruk menjalankan sistem yang dirancangnya sendiri. Setiap bangun tidur, ia segera melaksanakan gagasan-gagasannya yang sebagian lahir dari mimpi, sebagian lagi dibisikkan para punggawa dan cantrik tanpa pernah bertanya apakah gagasan itu menyalakan pelita bagi rakyat atau justru menambah panjang malam mereka.
Di kerajaan itu, keputusan turun dari singgasana seperti hujan batu. Pajak dinaikkan dengan alasan mengisi lumbung negara, tetapi lumbung hanya penuh di rumah para punggawa. Jalan-jalan rakyat dibiarkan berlubang, sementara gerbang istana dipoles hingga berkilau. Ketika panen gagal, rakyat diminta mengencangkan ikat pinggang; ketika kas kerajaan bocor, mereka diminta menyumbang lebih banyak. Anak-anak rakyat belajar di bangunan yang nyaris roboh, sedangkan para cantrik memperoleh tanah dan jabatan sebagai hadiah atas kesetiaan.
Rakyat diminta bersyukur atas luka yang mereka terima, sementara para punggawa sibuk menghitung keuntungan dari reruntuhan. Setiap retakan disebut tanda kemajuan, setiap keluhan dianggap gangguan, dan setiap kegagalan dipoles menjadi pengorbanan rakyat. Mereka yang bertanya dituduh tidak mencintai kerajaan; mereka yang mengkritik disebut menjual diri kepada musuh. Semakin morat-marit kerajaan, semakin ramai pula suara yang menyebut keadaan baik-baik saja.
Kemunafikan itu tampak jelas dalam upacara-upacara istana. Para punggawa berpidato tentang kesederhanaan sambil mengenakan kain terbaik dari gudang kerajaan. Mereka menyerukan pengorbanan sambil memastikan keluarganya terbebas dari pajak dan memperoleh tempat terhormat di lumbung negara. Di hadapan rakyat, mereka menyebut jabatan sebagai amanah; di belakang pintu, mereka membaginya seperti hadiah untuk kerabat dan sekutu. Hukum yang keras bagi rakyat berubah menjadi nasihat lunak ketika menyentuh keluarga penguasa.
Melihat kerajaan yang dipimpin Petruk kian kehilangan arah, Bagong mencoba memperbaikinya. Namun, ia segera menyadari bahwa pintu perbaikan dijaga oleh mereka yang menikmati kerusakan. Tidak ada jalan lain, pikirnya, selain menggantikan Petruk sebagai ratu.
Tentu saja, Petruk tidak akan menyerahkan singgasananya begitu saja. Kekuasaan, sekali melekat pada tubuh, sering kali dianggap sebagai kulit kedua, bahkan ketika tubuh itu mulai membusuk. Di istana, kursi bukan lagi tempat duduk, melainkan perangkap yang membuat penghuninya takut berdiri. Karena itu, Bagong mencari cara agar Petruk bersedia digantikan.
Bagong kemudian memperoleh informasi tentang seorang satria berkebutuhan khusus yang disegani Petruk, yaitu Lesmono Mondrokumoro. Maka, dimulailah gerakan Bagong bersama para punggawanya untuk mencari celah di antara ketakutan, ambisi, dan janji-janji yang selama ini menopang singgasana.
Gerakan itu berjalan lancar karena banyak satria yang kehilangan integritas, bersedia bekerja sama dengan Bagong. Mereka menukar kesetiaan dengan iming-iming kedudukan, seolah-olah jabatan adalah upah yang sah bagi mereka yang paling pandai berpindah haluan. Di kerajaan itu, pengkhianatan tidak lagi disebut pengkhianatan jika dilakukan demi masa depan yang dijanjikan. Ia cukup diberi nama baru: strategi.
Para satria yang sebelumnya memuji Petruk mulai menyebutnya sumber segala bencana. Mereka yang dahulu ikut menutup mulut rakyat, mendadak tampil sebagai pembela kebebasan. Mereka tidak meminta maaf atas keputusan yang pernah mereka dukung, karena mereka hanya mengganti warna pakaian dan menunggu rakyat melupakan siapa yang dahulu berdiri di sisi singgasana. Bagi mereka, prinsip bukan kompas, melainkan bendera yang dapat dikibarkan ke arah angin mana pun.
Bagong kemudian menawarkan kesepakatan kepada Petruk: Lesmono Mondrokumoro akan ditunjuk menjadi patih ketika Bagong menjadi ratu. Sebagai gantinya, Bagong berjanji menyerahkan singgasana kepada Lesmono dalam waktu dua tahun.
Janji itu terdengar seperti jembatan menuju perubahan, tetapi dibangun dari papan-papan yang belum tentu mampu menahan beban kekuasaan. Ketika perbaikan yang dilakukan Bagong belum selesai dalam dua tahun, ia belum bersedia menyerahkan singgasananya kepada Lesmono. Bagong beralasan bahwa rumah yang hampir roboh tidak dapat langsung diserahkan kepada penghuni baru sebelum tiangnya diperiksa. Namun, pemeriksaan itu perlahan berubah menjadi alasan untuk terus tinggal di dalam rumah yang sama.
Sementara itu, rakyat kembali diminta bersabar. Harga kebutuhan naik, upah tidak bertambah, dan lumbung-lumbung desa semakin kosong. Mereka yang kehilangan pekerjaan diberi pidato tentang masa depan; mereka yang sakit diberi nasihat agar tabah; mereka yang memprotes diberi cap sebagai pengacau. Perubahan yang dijanjikan tidak kunjung tiba, tetapi biaya untuk menunggunya terus dibebankan kepada rakyat.
Petruk pun murka karena merasa ditipu.
Namun, kemarahan Petruk terdengar ganjil di telinga rakyat. Bukankah selama satu dekade ia sendiri memerintah dengan serat pratandha pinjaman? Bukankah banyak janji telah dibiarkan menggantung seperti lampion padam di halaman istana? Di kerajaan itu, kebohongan rupanya hanya menjadi dosa ketika dilakukan oleh orang lain. Jika keluar dari mulut penguasa, ia disebut kebijakan; jika keluar dari mulut lawan, ia disebut pengkhianatan.
Bagong pun tidak sepenuhnya berbeda. Ia mengutuk penyalahgunaan kekuasaan ketika belum memegang kendali, tetapi mulai mencari pembenaran ketika kekuasaan berada di tangannya. Ia berjanji membongkar pintu istana, tetapi setelah masuk, ia lebih sibuk mengganti kuncinya. Ia mengecam para punggawa yang menjual kesetiaan, lalu merangkul mereka ketika dukungan mereka dibutuhkan. Dengan demikian, rakyat melihat bahwa yang berubah mungkin hanya nama penguasa, bukan watak kekuasaan.
Pertikaian antara Petruk dan Bagong semakin mendekatkan kerajaan pada kehancuran. Mereka saling menuduh demi menyelamatkan wajah, sementara rakyat menanggung akibat dari perebutan cermin di antara dua bayangan. Istana sibuk menentukan siapa yang paling bersih, sementara halaman dipenuhi lumpur yang sama. Setiap pihak mengaku berjuang demi rakyat, tetapi tidak satu pun benar-benar bertanya mengapa rakyat harus terus membayar harga dari pertengkaran mereka.
Akhirnya, Semar representasi rakyat terpaksa turun ke gelanggang. Ia tidak membawa mahkota, pasukan, atau janji jabatan. Ia hanya membawa tubuh tua, suara yang kerap diabaikan, dan ingatan tentang luka-luka yang terlalu lama disuruh diam.
Semar tahu, kerajaan tidak akan diselamatkan oleh pergantian nama di singgasana. Sebab, selama rakyat hanya dijadikan penonton, siapa pun yang duduk di atas sana akan mudah mengira dirinya sebagai pemilik negeri. Singgasana akan terus berganti penghuni, tetapi cara memerintah tetap sama: rakyat diminta menunduk, sementara penguasa sibuk menghitung tinggi mahkotanya.
Maka, Semar memanggil rakyat untuk berdiri bersamanya. Bukan untuk memilih siapa yang paling pandai berjanji, melainkan untuk memastikan bahwa tak ada lagi singgasana yang berdiri lebih tinggi daripada suara mereka. Rakyat harus berani memeriksa lumbung, menanyakan ke mana pajak dibawa, menolak jabatan yang dibagi sebagai upah kesetiaan, dan menuntut agar hukum berlaku sama bagi penguasa maupun jelata. Sebab, kekuasaan yang tidak diawasi akan selalu menemukan alasan untuk menyebut pencurian sebagai pembangunan dan pembungkaman sebagai ketertiban.
Sebab, pada akhirnya, kerajaan bukan milik Petruk, bukan pula milik Bagong dan bukan milik siapa pun yang mengira kekuasaan dapat diwariskan melalui tipu daya. Kerajaan adalah milik mereka yang membayar pajak, menggarap sawah, menjaga jalan, mengisi lumbung, dan menanggung akibat dari setiap keputusan yang dibuat di istana.
Kerajaan hanya akan selamat ketika rakyat berhenti menunggu diselamatkan. Sebab, selama rakyat menyerahkan kunci pintu kepada siapa pun yang paling lantang berjanji, istana akan selalu menemukan cara untuk mengunci mereka dari dalam.(*)







