Jakarta, Harian Umum - Nilai tukar rupiah melemah tajam pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026), karena terseret sentimen negatif pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi men-downgrade Bursa Efek Indonesia (BEI) ke status Standalone Market.
Menurut Bloomberg, kurs rupiah ditutup terkoreksi 89 poin atau 0,5% dan jatuh ke posisi 18.027/dolar AS.
Pelemahan rupiah ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, karena dolar Hongkong dan Ringgit Malaysia hanya terkoreksi 0,01% terhadap dolar AS.
Won Korea menguat 0,74%, Rupee India menguat 0,08% dan dolar Singapura menguat 0,16%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan tajam ini terjadi di tengah maraknya sentimen risk off di pasar domestik yang dipicu oleh kekhawatiran investor terkait potensi downgrade oleh MSCI.
Pasalnya, indeks dolar AS sendiri terpantau bergerak menurun seiring meredanya aksi jual di pasar obligasi global.
"Rupiah ditutup melemah tajam terhadap dolar AS di tengah sentiment risk off domestik oleh kekhawatiran downgrade MSCI," kata Lukman, Jumat (16/10/2026).
Ke depan, nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berada dalam tekanan akibat bayang-bayang sentimen negatif domestik tersebut.
Kendati demikian, penentu arah pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat bergantung pada respons investor serta langkah strategis pemerintah dalam beberapa hari mendatang. Apabila respons pasar dan kebijakan pemerintah mampu meredakan kecemasan investor, tekanan terhadap mata uang Garuda berpotensi berkurang.
Untuk jangka pendek, pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan akan berada dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.200 per dolar AS. (man)





