Jakarta, Harian Umum - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengancam akan membom Oman jika negara itu "menghalangi" upayanya untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Ancaman itu diucapkan Trump seiring dengan berakhirnya jangka waktu dua bulan untuk menegosiasikan perdamaian dengan Iran, Senin (17/8/2026), yang tidak memperlihatkan tanda-tanda akan berakhirnya konflik.
Menurut The Guardian, Selasa (18/8/2026), ancaman terbaru Trump terhadap Oman itu menunjukkan bahwa pendekatan diplomasi Trump seringkali tidak terduga dan keterlaluan, karena Oman bukan pihak yang terlibat dalam perang yang dikobarkan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap Iran.
"Pola pendekatan diplomasi Trump itu membuat Oman yang merupakan mitra AS, sekaligus menjadi jalur komunikasi rahasia utama antara Washington dan Teheran, kecewa. Apalagi karena pada bulan Mei, Trump juga mengancam negara itu," imbuh The Guardian.
Media ini juga mengingatkan bahwa perang yang dikobarkan Trump dan Netanyahu terhadap Iran, telah membuat konflik melebar di kawasan Asia Barat.
Pada Senin (17/8/2026), Houthi Yaman mengklaim telah menyerang kapal-kapal militer Arab Saudi yang merupakan sekutu AS, dengan rudal dan drone di Laut Merah, di sebuah pelabuhan di dekat Selat Bab-al Mandeb.
Pejabat Saudi tidak mengkonfirmasi klaim tersebut, meski Houthi mengatakan, serangannya mengenai salah satu dari empat kapal militer Saudi.
Bab-al Mandeb adalah jalur pelayaran global penting yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden.
Di Israel, menantu Trump, Jared Kushner, bertemu dengan Benjamin Netanyahu selama lebih dari empat jam karena Perdana Menteri Israel itu dengan tegas menolak rencana perdamaian yang didukung AS untuk perang Gaza, Palestina, yang mencakup penarikan pasukan Israel dari wilayah yang hancur tersebut.
Netanyahu mengatakan, dia menolak penarikan pasukan apa pun yang akan terjadi sebelum Hamas melucuti seluruh senjatanya.
Kepada media, pejabat AS membocorkan bahwa dalam pertemuan itu Kushner memperingatkan Netanyahu agar tidak menciptakan hambatan bagi kesepakatan perdamaian di Gaza.
Selain mengancam akan menyerang Oman, Trump juga mengklaim bahwa ia "tidak terburu-buru" untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, dan mengingatkan negara itu agar mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah.
"Saya tidak punya jadwal waktu (untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran), saya tidak terburu-buru," katanya.
Pada 17 Juni 2026, Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) secara daring, karena kala itu Trump berada di Istana Versailles untuk mengikuti KTT G7, sementara Pezeshkian berada di Teheran. MoU itu menyepakati gencatan senjata dalam waktu maksimal 60 hari, dan dapat diperpanjang dengan persetujuan bersama.
Namun, MoU itu dilanggar Israel dan AS, sehingga perang kembali pecah.
Dalam kondisi ini, CSIS memublikasikan data bahwa persenjataan AS telah menipis. Rudal pencegat Patriot bahkan telah digunakan hingga 65%.
Namun, Trump juga menepis kekhawatiran bahwa persenjataan Washington telah terkuras akibat perang hampir enam bulan dengan Iran.
Kepada Fox News, Trump mengatakan bahwa apa yang telah dikeluarkan AS terhadap Iran sejauh ini adalah "sepele". (man)







