Jakarta, Harian Umum - Warga Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (1/5/2026) sekitar pukul 14.30 WIB digegerkan oleh Fenomena aneh di langit berupa awan berwarna-warni dengan bentuk melengkung.
Fenomena ini dilihat oleh warga di wilayah Jonggol, Klapanunggal, hingga Sentul City.
Rekaman warga atas fenomena ini viral di media sosial.
'Langit Bogor kemarin. Gradasi senjanya bikin mata susah kedip… tenang, lembut, dan adem banget dilihat. Kadang langit cuma sebentar kasih pemandangan seindah ini, tapi cukup buat bikin hati ikut tenang," kata @apchnanel216978, salah satu akun X yang memposting video fenomena alam itu dikutip Sabtu (2/5/2026).
Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ida Pramuwardani menjelaskan, awan berwarna-warni tersebut merupakan fenomena optik atmosfer yang umum terjadi.
“Ini bukan tanda badai atau kejadian berbahaya. Fenomena tersebut berkaitan dengan proses pembiasan cahaya Matahari oleh butiran air di atmosfer,” katanya dikutip dari Wartakota Live, Sabtu (2/5/2026).
Menurut dia, warna-warna tersebut terbentuk ketika cahaya Matahari dibiaskan dan dipantulkan oleh partikel air atau kristal es di dalam awan. Kondisi ini umumnya terjadi pada awan tipis seperti cirrus atau altocumulus yang memiliki ukuran partikel relatif seragam.
Secara ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai awan iridesensi (cloud iridescence) atau awan pelangi.
Berbeda dengan Pelangi Biasa
Fenomena ini berbeda dengan pelangi biasa, yang dalam istilah meteorologi disebut rainbow atau busur hujan, karena kemunculan awan iridesensi diakibatkan oleh difraksi cahaya, yakni pembelokan sinar Matahari saat melewati partikel kecil berukuran sekitar 1–10 mikron di dalam awan.
Kemunculan awan ini sering berkaitan dengan pertumbuhan awan konvektif yang dapat memicu hujan lokal. Hal ini sejalan dengan kondisi di lapangan, di mana saat awan itu muncul, sebagian wilayah Sentul masih cerah, sementara daerah sekitarnya telah mengalami peningkatan kelembapan atau hujan ringan.
Ida mengakui, fenomena ini tergolong jarang karena membutuhkan kombinasi kondisi atmosfer yang spesifik, seperti ukuran partikel awan yang seragam serta sudut datang cahaya Matahari yang tepat.
Meski demikian, kejadian serupa pernah tercatat di beberapa wilayah Indonesia.
BMKG menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kemunculan awan berwarna-warni tersebut. Namun, warga diimbau untuk tidak menatap langsung ke arah Matahari saat mengamati fenomena, guna menghindari risiko kerusakan pada mata akibat paparan cahaya yang kuat. (man)


