Jakarta, Harian Umum - Jumlah korban tewas akibat KRL Commuterline jurusan Duri-Cikarang ditabrak KA Argo Bromo Anggrek jurusan Gambir-Surabaya di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) pukul 20:57 WIB, terus bertambah.
Data pada pukul 09:00 WIB, Selasa (28/4/2026), menunjukkan bahwa korban tewas telah bertambah dari 7 menjadi 14 orang. Jenazah para korban ini telah dikirim ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Jumlah korban luka juga bertambah dari 81 menjadi 84 orang dn saat ini sedang mendapat penanganan medis di sejumlah rumah sakit, di antaranya RSUD Kota Bekasi, RS Primaya dan RS Bantargebang.
Vice President Corporate Communication PT KAI, Anne Purba, kembali menyampaikan duka cita dan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan dan keluarga korban.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada korban meninggal dunia dan keluarga yang ditinggalkan, serta kepada seluruh pelanggan yang terdampak," kata dia melalui keterangan resminya, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, saat ini fokus KAI adalah memastikan setiap korban mendapatkan penanganan terbaik, keluarga memperoleh informasi yang dibutuhkan, dan seluruh proses berjalan dengan kehati-hatian serta koordinasi yang kuat.
"Biaya perawatan korban ditanggung asuransi dan oleh KAI," sambungnya.
Tabrakan maut ini berawal ketika sebuah taksi listrik ditabrak kereta listrik yang datang dari arah Cikarang menuju Stasiun Bekasi Timur. Tabrakan itu terjadi karena taksi berwarna hijau tersebut nekat menyeberangi perlintasan Ampera yang berada tak jauh dari Stasiun, meski kereta akan lewat.
Selang tak lama setelah itu KRL Commuterline tujuan Cikarang masuk jalur 2 untuk menurun dan menaikkan penumpang. Namun, karena ada insiden taksi ditabrak kereta, KRL itu tak langsung berangkat setelah selesai menurun dan menaikkan penumpang.
Pada saat itulah datang KA Argo Bromo Anggrek dengan kecepatan tinggi seperti bisanya, yang melaju di rel yang sama dengan KRL tujuan Cikarang.
Tak pelak, kereta jarak jauh itu menabrak gerbong paling belakang KRL dengan sangat keras, sehingga menimbulkan suara benturan yang mirip suara bom, sehingga dinding belakang gerbong itu hancur dan lokomotif Argo Bromo masuk ke dalamnya.
Seketika terjadi kekacauan, karena terdengar suara jerit tangis dan teriakan minta tolong. Sementara serpihan dari gerbong paling belakang berterbangan ke mana-mana, termasuk ke peron.
Kerasnya benturan membuat gerbong KRL yang kedua dari belakang, ikut ringsek. Mayoritas korban dari insiden ini adalah perempuan, karena gerbong paling belakang dan paling depan kereta memang khusus untuk perempuan.
Selasa pagi, Presiden Prabowo Subianto mendatangi RSUD Kota Bekasi untuk melihat kondisi korban yang dirawat di sana. (rhm)




