Teheran, Harian Umum - Pimpinan yudikatif Iran menilai Amerika Serikat (AS) dan Israel frustasi menghadapi perlawanan negaranya. Terlebih karena rakyat bersatu dalam menghadapi agresi kedua negara yang dianggap sebagai musuh itu.
"Ketua Mahkamah Agung (MA) Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, mengatakan bahwa persatuan nasional dan suara bulat rakyat Iran telah membuat musuh frustrasi dan tak berdaya," demikian dilansir kantor berita Tasnim, Minggu (26/4/2026).
Ejei mengatakan hal tersebut dalam pertemuan dengan sejumlah pejabat peradilan di Teheran.
Dalam pertemuan itu, Ejei juga meyakini bahwa persatuan nasional lah yang telah menggagalkan upaya AS dan Israel menggulingkan pemerintahan Revolusi Iran, dan karena Kohesi pula Iran dan AS gagal memenangkan perang, dan AS gagal menekan Iran saat perundingan tanggal 11-12 April 2026.
"Namun, Ejei memperingatkan bahwa musuh pasti akan berusaha mewujudkan tujuan-tujuannya yang belum tercapai dengan terus menciptakan perpecahan dan perselisihan di dalam masyarakat Iran. Karenanya, Ejei meminta rakyat iRan untuk tetapi besatu karena hanya itu yang dapat menggagalkan upaya-upaya musuh menjadi sia-sia," imbuh Tasnim.
Menurut Ejei, persatuan nasional berfungsi sebagai penghalang yang kuat dan kokoh terhadap tindakan-tindakan permusuhan, dan ia meminta rakyat Iran untuk tetap sepenuhnya mematuhi pedoman Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei, karena itu juga merupakan jalan menuju Iran yang lebih kuat..
"Dalam perang kognitif yang dilancarkan musuh, Republik Islam digambarkan sebagai negara yang terisolasi dan kurang mendapat dukungan rakyat, dan itu terbukti salah. Kesalahan itu pula yang membuat AS dan Israel salah memperhitungkan kekuatan Iran, sehingga mereka jatuh dalam perangkap kesalahan perhitungan mereka sendiri," kata Tasnim lagi mengutip Ejei.
Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump pada awal-awal serangan mengatakan bahwa perang dengan Iran hanya akan berlangsung beberapa hari. Ia bahkan menyebut bahwa serangan perdana AS dan Israel pada tanggal 28 Februari, bukan saja berhasil membunuh Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran Ayatollah Ali Khamenei, tetapi juga kekuatan militernya.
Pernyataan Trump terbukti salah, karena hingga kini perang masih berlangsung. Bahkan alih-alih memenangkan perang, melalui Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Trump mengajukan 15 syarat kepada Iran jika ingin perang diakhiri, akan tetapi Iran menolak ke-15 syarat itu dan mengajukan 10 syarat jika AS ingin menghentikan perang.
Awalnya Trump setuju, akan tetapi ketika negosiasi berlangsung di Islamabad pada 11-12 April, delegasi AS yang dipimpin Wapres JD Vance justru mengajukan syarat yang menurut Iran berlebihan, seperti membuka Selat Hormuz dan selat itu tidak di bawah kendali Iran, dan Iran menyerahkan uranium yang telah diperkaya. Iran menolak dan perundingan gagal.
AS meminta perundingan lanjutan, tapi Iran menolak karena telah mencium niat busuk AS dengan mengajak perundingan, yakni ingin memenangkan perang melalui perundingan setelah kalah di Medan Pertempuran.
Iran kita tengah menyiapkan kejutan baru untuk perang lanjutan yang pasti akan terjadi. (man)


