Jakarta, Harian Umum- Capres nomot urut 02 Prabowo Subianto berjanji akan menurunkan tarif dasar listrik (TDL) dalam 100 hari setelah dilantik menjadi presiden RI ke-8 untuk pqeriode 2019-2024.
Namun dengan catatan, jika ia memenangi Pilpres 2019.
"Saya sudah kumpulkan tim pakar. Ada ahli ekonomi, ahli industri dan ahli teknologi. Mereka semua sudah bekerja. Maka, begitu saya menerima mandat rakyat, kami sudah bekerja untuk rakyat," katanya saat berorasi dalam Kampanye Akbar di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (7/4/2019).
Ketua umum Partai Gerindra itu menegaskan, orasinya ini merupakan pidato kebangsaan, sehingga dia tak boleh banyak guyon, tapi juga tak ingin terlalu serius agar 1 juta lebih pendukungnya yang menghadiri kampanye ini, tidak mengantuk.
Ia mengkritik pemerintahan Jokowi yang dinilai tidak konsisten dan tidak jujur, karena pemerintah mengklaim bahwa ekonomi dalam keadaan baik-baik saja, namun pertumbuhan ekonomi ternyata hanya 5%.
"5% kok baik, Ndasmu!" umpatnya.
Ia juga mengkritik pembangunan infrastuktur yang banyak dilakukan Jokowi, namun manfaatnya tidak dirasakan rakyat. Salah satunya adalah jalan tol yang kini tarifnya mahal (Tol Trans Jawa), sehingga pengemudi truk tak mau melalui jalan tol itu.
"Sekarang rakyat kita mau dibagi kartu-kartu. Kita butuh pekerjaan, bukan kartu!" teriaknya, dan disambut pendukungnya dengan sahutan bergemuruh; "Betuuull ....!"
Prabowo mengingatkan kalau saat ini rakyat sedang sudah, karena TDL tinggi setelah dinaikkan berkali-kali oleh pemerintahan Jokowi.
"Saya tanya ke tim ahli saya; bisa turunkan listrik? Mereka hitung+hitung. Saya tanya, bisa turun dalam 3 tahun? 2 tahun? 1 tahun? Minimal 1,5 tahun? Lalu tim saya bilang bisa turun 100 hari," katanya.
Mantan Danjen Kopassus ini mengaku sempat menegur ketua tim ekonominya, ekonom yang juga mantan Menko Maritim Rizal Ramli, dengan memintanya agar jangan ngarang, karena dia tak ingin dituduh berbohong.
"Tapi Rizal memastikan bisa turun dalam 100 hari. Lalu saya tanya; mengapa selama ini tinggi, Pak Rizal? Dia jawab; biasa, Pak, banyak yang minta setoan," imbuh Prabowo.
Ketua Umum Partai Gerindra ini juga mengatakan, jika ia menjadi presiden melalui Pipres 2019, dia akan mengatasi kebocoran keuangan negara yang sangat besar akibat korupsi dan pungli seperti itu.
Ia menyindir elit pemerintahan Jokowi yang tidak membantah saat ia mengungkap adanya kebocoran uang negara hingga Rp1.000 triliun/tahun, tapi mengejek.
"Saya ditantang; mana buktinya? Alhamdulillah tiga hari yang lalu KPK menyampaikan bahwa yang bocor Rp2.000 triliun. Lebih besar dari yang saya sampaikan. Dalam lima tahun, kebocoran bisa Rp10.000 triliun. Apa yang bisa kita lakukan dengan Rp10.000 triliun? Berapa ratus pabrik yang bisa dibangun?" katanya.
Ia pun mengingatkan bahwa saat ini usianya sudah 68 tahun, dan ia ingin mempersembahkan sisa hidupnya untuk rakyat Indonesia."
Kebahagiaan saya adalah kalau saya bisa mengembalikan kekayaan Indonesia kembali ke rakyat Indonesia, karena saat ini kekayaan Indonesia banyak berada di luar negeri," katanya. (rhm)







