Jakarta, Harian Umum- Ratusan emak-emak militan pendukung pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi, Jumat (26/4/2019) sore mendemo kantor KPU Pusat di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat.
Didukung sejumlah artis dan pekerja seni, seperti Ozy Syahputra, Evry Joe dan Ananda George, para emak-emak itu menggeruduk KPU dengan membawa peralatan dapur seperti baskom, panci dan ember, dan menuntut KPU agar jangan curang.
"Saya minta kepada Allah, jika KPU jujur sehingga Prabowo-Sandi menang, ya Allah masukkan para komisioner KPK ke dalam surga-Mu. Tapi jika mereka ingkar karena tekanan-tekanan rezim, hancurkan hingga keturunannya ya Allah, hingga sehancur-hancurnya," kata seorang emak-emak berhijab dan berbusana serba hitam saat berorasi dari atas mobil komando.
Emak-emak yang sedang hamil ini meminta para komisioner KPU membuka pintu hati dan jangan curang.
"Engkau dilahirkan oleh emakmu! Engkau enak duduk di KPU karena doa orangtuamu! Karena emakmu! Kami ingin negara ini adil dan.makmur, sandang pangan murah. Kalian, KPU, harus jujur! Jangan curangi Prabowo-Sandi!" imbuhnya.
Artis dan pekerja seni yang terlibat aksi ini, secara bergiliran ikut berorasi.
"Ingat, KPU, suara rakyat adalah suara Tuhan! Jangan dicurangi!" kata Evry Joe dalam orasinya.
Produser film ini menilai kalau Pemilu 2019 merupakan Pemilu yang paling heboh karena penyelenggara Pemilu yang seharusnya netral, ikut menjadi pemain.
"KPU Jangan main-main dengan suara rakyat!" imbuhnya.
Seperti diketahui, kecurigaan kubu 02 kalau KPU terindikasi tidak netral dan diduga mencurangi hasil Pilpres 2019, karena selain respon KPU jauh dari harapan atas berbagai pelanggaran yang dilakukan kubu 01 Jokowi-Ma'ruf Amin, termasuk dalam tindakan yang dinilai sebagai money politics dan terbongkarnya kasus surat suara yang telah dicoblos untuk 01 di Selangor, Malaysia, sebelum hari pemungutan suara pada 17 April, juga karena petugas KPU melakukan banyak sekali kesalahan dalam menginput data dari formulir C1 ke sistem hitung (Situng) KPU di pemilu2019.kpu.go.id.
Anehnya, kesalahan itu dalam bentuk penggelembungan suara 01 dan pengempesan suara 02. Meski kesalahan itu dikritik, kesalahan terus dilakukan karena KPU hanya menganggapnya sebagai human error.
Kubu 02 dan pendukungnya curiga kalau Situng sengaja didesain untuk menguatkan hasil quick count (QC) sejumlah lembaga survei yang memenangkan 01 dengan persentase 54-55%.
Kecurigaan ini membuat kubu 02 dan pendukungnya semakin meradang, karena mereka menilai QC itu cuma pembohongan publik, karena dari hasil real count (RC) 02 berdasarkan formulir C1 yang dikirimkan para relawan dari semua provinsi, kubu ini menang dari 01. Prabowo bahkan berani mengklaim pihaknya menang 62%.
Selama berdemo, para emak-emak juga menggelar poster dan spanduk yang di antaranya bertuliskan "Pemilu Harus Jujur", " KPU Jujur Disayang Emak-emak, KPU Curang Azab Menanti".
Aksi ini dikawal ketat aparat kepolisian, karena pada saat yang sama puluhan massa pendukung 01 juga mendemo di KPU untuk mendukung lembaga penyelenggara Pemilu itu, sehingga agar tidak terjadi bentrok, polisi membentuk pagar betis berlapis di antara keduanya.
Namun saat emak-emak masih beraksi, para pendukung 01 itu kemudian berlalu bersama mobil komandonya. (rhm)







