Jakarta, Harian Umum- Organisasi Anda punya agenda kemping, tapi masih belum menemukan lokasi yang pas? Cobalah di Grand Camp, Jalan Raya Puncak Km 17 Kecamatan Cipayung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dijamin tidak mengecewakan.
Grand Camp merupakan area camping milik PT Jakarta Tourisindo (Jaktour Group), BUMD milik Pemprov DKI Jakarta yang bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata, dan berada dalam kawasan Grand Cempaka Resort and Convention. Luasnya 1,5 hektare.
"Tempat kemping ini baru dibuka Juni 2018, namun peminatnya sudah luar biasa. Hingga akhir 2018, sebanyak 1.800 pelajar dan mahasiswa berkemah di sini. Tahun ini kita targetkan yang kemping mencapai 32.000 orang," ujar General Manager Grand Cempaka Resort and Convention, Buchari Boy, kepada wartawan, Rabu (20/3/2019).
Ia menyebut, tingginya minat masyarakat untuk kemping di Grand Camp disebabkan beberapa hal. Pertama, lokasi yang relatif mudah dijangkau dari Jakarta karena hanya berjarak sekitar 6 kilometer dari pintu Tol Ciawi, dan belum memasuki titik macet kawasan Puncak.
Selain itu, Grand Camp merupakan satu-satunya tempat berkemah di kawasan Puncak yang berada di tepi aliran sungai, tepatnya Sungai Ciliwung.
"Dengan kondisi alam yang masih natural dan adanya kebun pohon jati Belanda, kemping di sini menjadi kegiatan yang menyenangkan," imbuh Boy.
Bagi Anda yang berniat kemping di tempat ini, per orang hanya dikenai biaya Rp175.000, namun mendapat sejumlah fasilitas seperti tenda dengan kapasitas maksimal 8 orang/unit, plus makan tiga kali sehari.
Boy menyebut, mahasiswa UI, siswa Al Azhar, siswa SMA Penabur dan Yayasan Lentera Kasih adalah di antara pihak-pihak yang pernah kemping di Grand Camp.
"Penabur malah rutin kemping di sini," katanya.
Usaha tempat kemping merupakan salah satu bisnis yang baru digeluti Jaktour Group dalam rangka mendongkrak pertumbuhan, karena BUMD ini sempat terpuruk pada 2015-2016 akibat menanggung defisit hingga Rp19,7 miliar.
Bisnis lain yang juga kini digeluti Jaktour di antaranya di bidang pendidikan dengan planning membuka sekolah kepariwisataan, dan memasuki usaha Mice (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).
"Saat ini Jaktour dalam tahap penyehatan, karenanya perlu dilakukan langkah-langkah strategis, termasuk melakukan transformasi bisnis dan menambah devisi-devisi baru untuk ekspansi," ujar Dirut Jaktour Geraard Jeffrey Zacharias Rantung, Rabu (20/3/2019), saat media gathering.
Geraad mengakui, pembentukan divisi-divisi ini memang membuat struktur Jaktour menjadi lebih gemuk, namun ia meyakini inilah yang akan dapat membuat Jaktour memenuhi visinya menjadi perusahaan berdaya saing, bernilai dan berkelas dunia dalam bidang perhotelan dan pariwisata.
"Dengan apa yang kita lakukan, pada 2018 lalu kita bisa mereduce kerugian hingga Rp4,2 miliar," katanya.
Petilasan Prabu Siliwangi
Ada lagi satu hal yang menarik di Grand Camp, yakni di sebelah selatan area itu, tepat di antara semak yang tumbuh di antara pohon-pojon jati Belanda yang menjulang tak jauh dari tepi sungai, terdapat tebaran batu-batu berukuran lumayan besar. Di antara batu-batu itu nampak ada satu yang berbentuk seperti gunung.
Boy menjelaskan, menurut asosiasi majalah paranormal yang pernah mendatangi tempat itu, area dimana batu-batu bertebaran l berada merupakan petilasan (tempat bertapa) Prabu Siliwangi.
"Batu yang seperti gunung itu katanya tempat sang Prabu bersandar," katanya.
Meski demikian Boy mengakui, meski di Grand Camp ada tempat seperti ini, namun orang-orang yang pernah kemping di tempat ini tidak ada yang mengalami hal-hal berbau mistis atau ghaib karena sejatinya, menurut dia, petilasan ini hanya benda mati yang terdiri dari tebaran batu-batu.
Ia bahkan mengatakan, area dimana petilasan itu berada akan dibersihkan, karena berpotensi menjadi objek wisata bersejarah. (rhm)







