Washington, Harian Umum - Gedung Putih dikabarkan pecah akibat terbelahnya suara para elit di Amerika Serikat (AS), menyusul kegagalan Presiden AS Donald Trump mengalahkan Iran hanya dalam beberapa hari sebagaimana digembar-gemborkan di awal perang.
Mengutip Israel Hayom, Kamis (21/5/2026), Al Mayadeen melaporkan bahwa sumber-sumber media itu mengatakan, Gedung Putih pecah setelah perdebatan sengit yang melibatkan Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan pejabat senior pemerintahan.
"Perdebatan itu dipicu silang pendapat mengenai apakah Washington harus meningkatkan tekanan terhadap Teheran atau melanjutkan keterlibatan diplomatik guna menghentikan perang," kata Al Mayadeen mengutip Israel Hayom.
Laporan tersebut menyebut, pejabat AS yang mendukung garis keras berpendapat bahwa Iran tidak akan membuat konsesi tanpa peningkatan tekanan militer dan ekonomi, termasuk ancaman serangan langsung dan sanksi yang lebih keras.
Namun, Vance dilaporkan berpendapat bahwa proposal terbaru Teheran menunjukkan fleksibilitas yang cukup untuk membenarkan kelanjutan negosiasi dan berpotensi bergerak menuju kesepakatan yang lebih luas yang mampu mengakhiri ketegangan.
Utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mendukung Vance.
Perdebatan ini, kata Israel Hayom, juga terjadi sebelum pertemuan dengan negara-negara Teluk, termasuk Oman, Qatar, dan Arab Saudi, yang dikatakan menentang peningkatan eskalasi militer terhadap Iran, karena kekhawatiran akan ketidakstabilan regional yang lebih luas dan dampaknya terhadap ekonomi kawasan dan global.
Trump dilaporkan mengkritik para pejabat yang mendukung diplomasi, menuduh mereka membiarkan Iran mengulur waktu sambil melemahkan posisi Washington. Vance dilaporkan menanggapi dengan berpendapat bahwa pemerintah harus fokus pada mengakhiri keterlibatan militer di luar negeri, menurunkan harga minyak, dan mengatasi masalah ekonomi domestik di Amerika Serikat.
Berbeda dengan laporan Israel Hayom, media-media AS justru melaporkan bahwa Trump lebih memilih untuk menyelesaikan konflik secara diplomatik daripada menghidupkan kembali perang melawan Iran.
Wall Street Journal pada Kamis (21/5/2026) mengutip sumber-sumber yang mengetahui informasi tersebut, mengatakan bahwa presiden AS dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan panggilan telepon di mana Netanyahu mengatakan kepada Trump bahwa Iran tidak akan mematuhi syarat-syarat gencatan senjata dan bahwa AS harus melanjutkan serangan terhadap Iran.
Trump, menurut WSJ, membela pilihannya untuk berunding, tetapi menambahkan bahwa serangan terhadap Iran akan dilanjutkan jika Teheran tidak menunjukkan sikap yang lebih kooperatif.
Trump mengatakan kepada wartawan pada Rabu bahwa hubungan telepon berjalan dengan baik dan Netanyahu akan melakukan apa pun yang dia inginkan, dan mengklaim bahwa keputusan mengenai Iran "tepat di ambang batas".
"Kita harus mendapatkan jawaban yang tepat—itu harus berupa jawaban yang benar-benar baik 100%," kata Trump tentang tanggapan Iran.
Sekutu AS di Teluk juga pecah
Israel Hayom melaporkan bahwa tak hanya di Gedung Putih, perpecahan juga terjadi di antara sekutu AS di kawasan Teluk terkait masalah Iran ini.
Menurut media itu, Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan dan Netanyahu mendukung pendekatan garis keras terhadap Teheran sambil menuntut perlindungan dari AS terhadap infrastruktur strategisnya. Namun, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani dilaporkan lebih memilih menghindari konfrontasi terbuka.
Sumber diplomatik yang dikutip dalam laporan tersebut mengatakan bahwa Arab Saudi dan Qatar memilih untuk mempertahankan saluran komunikasi dengan Iran.
"Tujuannya untuk mengurangi ketegangan regional dan risiko keamanan," kata Israel Hayom. (man)


