Teheran, Harian Umum - Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran secara implisit akan merudal kapal tanker yang berani mendekati Selat Hormuz, sejak jalur air strategis itu ditutup kembali, Sabtu (20/6/2026).
"Selat Hormuz tetap ditutup. Semua kapal disarankan untuk tidak mendekati area tersebut. Jika tidak, mereka akan menanggung tanggung jawab penuh atas segala risiko dan potensi konsekuensi keamanan," kata Kantor Hubungan Masyarakat Angkatan Laut IRGC, dikutip dari Fars News, Senin (22/6/2026).
Instansi itu menjelaskan, Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi seperlima kebutuhan minyak global, tidak akan mengeluarkan izin transit bagi kapal tanker dari negara manapun hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Diberitakan sebelumnya, Iran marah karena Israel buka hanya telah melanggar gencatan senjata yang telah disepakati dengan Lebanon, dengan terus menerus membombardir negara itu, juga karena meski Lebanon termasuk wilayah yang masuk dalam gencatan senjata yang memorandum of understanding (MoU)-nya ditandatangani Iran dan AS pada 18 Juni lalu, dan tertuang pada klausul pertama MoU, akan tetapi Israel juga tetap membombardir Lebanon.
Celakanya, sebagai sekutu karibnya, AS tidak mampu mengintervensi Israel agar mematuhi MoU Islamabad yang telah ditandatangani, sehingga AS dianggap telah melanggar klausul pertama dalam MoU itu.
"Mengingat kekejaman yang dilakukan oleh rezim Israel di Lebanon dan pelanggaran kewajiban gencatan senjata oleh Amerika Serikat, Selat Hormuz ditutup untuk semua kapal," tegas Kantor Humas Angkatan Darat IRGC.
Pertemuan di Swiss
Sementara itu, Fars juga melaporkan kalau saat ini, sejak Hari Minggu (21/6/2026), delegasi Iran dan AS telah tiba di Swiss untuk memastikan pelaksanaan MoU.
Perwakilan Pakistan dan Qatar sebagai negosiator juga telah hadir di Swiss.
"Pertemuan ini bertujuan untuk memastikan kepatuhan pihak lain terhadap komitmen berdasarkan MoU 18 Juni, dan meninjau pemenuhan prasyarat yang diperlukan untuk memulai negosiasi perjanjian akhir," kata Juru bicara Kemenlu Iran yang juga juru bicara tim negosiasi Iran dengan AS, Esmail Baqaei, dilansir Fars.
Ia menjelaskan, pertemuan pada Minggu (21/6/2026), diawali dengan pertemuan bilateral dengan delegasi dari Pakistan dan Qatar, dilanjutkan dengan pertemuan dengan pihak AS yang disebut sebagai pertemuan Segi Empat.
"Kami menandatangani MoU Islamabad pada 18 Juni, dan sejak saat pertama, kami telah memprioritaskan tindak lanjut atas implementasinya. Kami tidak pernah bermaksud untuk sekadar menandatangani dokumen dan mengharapkan dokumen tersebut secara otomatis diimplementasikan oleh pihak lain. Kami tidak dapat mengabaikan pengalaman masa lalu kami dalam hal ini," kata Baqaei.
Ia menambahkan, berdasarkan MoU Islamabad, dimulainya pembicaraan untuk kesepakatan akhir bergantung pada implementasi lima klausul spesifik, termasuk Klausul 1, yang menyerukan penghentian permusuhan di semua lini, termasuk Lebanon.
"Kami menyadari bahwa klausul ini belum diimplementasikan. Amerika Serikat tampaknya tidak mampu atau tidak mau menegakkannya, dan rezim Israel terus melanggar komitmennya di Lebanon. Secara bersamaan, masalah pelepasan aset Iran yang diblokir atau dibatasi, serta penerbitan izin yang diperlukan untuk penjualan minyak Iran, juga akan diperiksa," imbuh ya.
Baqaei menegaskan bahwa pertemuan di Swiss ini untuk memastikan implementasi MOU. Untuk itu, Iran terus menerus dan setiap saat bertukar pesan dengan AS melalui perantara.
"Tujuan kami adalah untuk fokus pada memastikan pemenuhan komitmen pihak lain berdasarkan MoU 18 Juni," pungkas Baqaei. (man)







