Jakarta, Harian Umum - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat pada perdagangan Rabu (13/5/2026) pagi hingga menjelang jeda siang.
Rupiah dibuka menguat 13,5 poin atau 0,07% dari penutupan Selasa yang berada di Rp17.529/dolar AS, sehingga pada hari ini mulai diperdagangkan pada posisi Rp17.515,5/dolar AS
Kurs Garuda itu kemudian bergerak di zona hijau, meski dalam kisaran sempat, dan bahkan perlahan-lahan cenderung memangkas besaran penguatannya.
Pada pukul 11.12 WIB, menurut data Bloomberg, rupiah berada di posisi Rp17.525/dolar AS karena penguatannya menyusut menjadi hanya 4 poin atau 0,02%.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan rupiah pada perdagangan hari ini berpeluang kembali melemah seiring risiko geopolitik dan tren kenaikan inflasi global.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.525 - Rp17.575, dipengaruhi oleh global kembali naiknya harga minyak, index dollar dan yield obligasi pemerintah AS akibat risiko geopolitik dan tren kenaikan inflasi,” kata Rully di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Hal senada dikatakan analis pasar uang Ibrahim Assuaibi. Ia memperkirakan mata uang rupiah untuk perdagangan hari ini akan fluktuatif, namun ditutup melemah.
Mata uang Garuda akan bergerak di kisaran Rp17.520 hingga Rp17.580/dolar AS.
Ibrahim menjelaskan, pergerakan rupiah masih akan berada dalam kondisi yang tidak menentu. Pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pasar keuangan Indonesia.
Dari eksternal, Ibrahim menyoroti memanasnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah. Negosiasi antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik dinilai masih rapuh setelah muncul berbagai perbedaan tuntutan di kedua belah pihak.
“Pada saat yang sama, hanya beberapa hari sebelum pertemuan Trump yang direncanakan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, Washington menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan sembilan perusahaan, termasuk perusahaan yang berbasis di Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman, karena memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke Tiongkok,” jelas Ibrahim dikutip dari MetroTV News.
Dari faktor domestik, kondisi ekonomi diperberat oleh penurunan sektor manufaktur Indonesia pada April 2026 yang merupakan kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir. Hal ini dipicu oleh rendahnya permintaan pasca-liburan, serta gangguan pada rantai pasok global.
Selain itu, pelaku pasar turut mencermati pengumuman dari MSCI terkait potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global yang dapat memicu arus keluar modal asing dari pasar domestik. (rhm)


