Jakarta, Harian Umum- Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian meralat pernyataan yang disampaikan pada Minggu (13/5/2018), bahwa enam orang dari satu keluarga yang menjadi pelaku aksi bom bunuh diri (bomber) di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, baru kembali dari Suriah setelah bergabung dengan ISIS.
Ralat dilakukan setelah koresponden BBC Australia untuk Indonesia, David Lipson, mengabarkan kalau keluarga itu tak pernah ke negara dimaksud, karena selama ini tetap berada di tempat tinggalnya.
"We spoke to this family, neighbours of the surabaya church bombers today. they're in shock. And they dispute police claims the family recently returned from syria. say they've been living here, very visibly for years. so ... home grown? (Kami bicara dengan keluarga ini, para tetangga pelaku pengeboman gereja di Surabaya hari ini. Mereka syok dan membantah klaim polisi kalau baru-baru ini keluarga yang melakukan pengeboman itu kembali dari Suriah. Mereka tinggal di sini, terlihat dengan jelas selama bertahun-tahun. Jadi, rumah itu tempat mereka tumbuh?" kata David melalui akun Twitter pribadinya, @davidlipson.
Dalam ralatnya, Tito mengakui kalau terduga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya tidak pernah berangkat ke Suriah.
"Dalam keluarga yang meninggal ini tidak ke Suriah. Ini setelah saya konfirmasi kembali kemarin dengan tim Densus yang menangani dikroscek kembali," katanya kepada wartawan di Mapolda Jawa Timur, Senin (14/5/2018).
Meski demikian, Tito tetap menyatakan ada keterkaitan antara jaringan teror di Suriah (ISIS) dengan keluarga yang melakukan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya itu.
Keterkaitan tersebut, kata Tito, terletak pada hubungan antara keluarga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya dengan sebuah keluarga yang pernah dideportasi oleh pemerintah Turki beberapa waktu lalu.
Keluarga yang dideportasi Turki itu, katanya, berperan sebagai ideolog dalam jaringan teror yang dibangun keluarga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya tersebut.
"Satu keluarga ini adalah salah satu ideolognya kelompok ini, itu yang baru pulang satu keluarganya, ditangkap oleh Turki dan dideportasi ke Indonesia. Nah, pimpinan dari keluarga ini, yang ditangkap Turki ini karena mau ke Suriah itulah yang menjadi ideolog utama kelompok ini," kata Tito.
Tito tak menyebut nama keluarga yang dideportasi Turki tersebut dengan alasan karena polisi masih mencari keberadaan keluarga tersebut.
Seperti diketahui, pada Minggu pagi tiga gereja di Surabaya, yakni Gereja Pantekosta, GKI dan Gereja Santa Maria Tak Bercela diserang aksi bunuh diri oleh satu keluarga yang terdiri dari ibu, ayah dan empat anaknya, dimana dua dari keempat anak itu masih di bawah umur.
Serangan ini menewaskan 13 orang yang terdiri dari keenam pelaku dan tujuh warga setempat, termasuk jemaat gereja, serta mencederai 41 orang.
Keenam orang dari satu keluarga ini adalah Dita Oepriarto (44); istriDita, Puji Kuswati (41); dan keempat anaknya yang bernama Fadhila Sari, Famela Rizqita, Yusuf Fadhil dan Firman Halim.
Tito mengatakan, Dita adalah anggota jemaah JAD (Jamaah Ansarut Daulah) Surabaya.
"Jaringan ini kaitannya dengan JAT (Jaringan Ansarut Tauhid). Keduanya terkait dengan ISIS," tegas dia.
JAD dipimpin oleh Aman Abdurahman yang saat ini dipenjara di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. (rhm)





