Jakarta, Harian Umum- Kementerian Agama (Kemenag) banjir kritik dan hujatan setelah merilis 200 daftar nama mubalig atau ustaz/ustazah yang dapat dijadikan rujukan masyarakat untuk mengisi kegiatan-kegiatan keagamaan.
Pasalnya, di antara ke-200 nama itu tak ada ulama atau ustad yang selama ini justru menjadi rujukan umat Islam, seperti Ustad Abdul Somad, Bachtiar Nasir, Ali Hidayat dan Zulkifli Ali.
"Sikap Menag @lukmansaifuddin semakin terlihat Kemenag bukan berpihak dan untuk kepentingan umat Islam tapi untuk kepentingan penguasa. Tak bisa dipungkiri Ustadz Abdul Somad, ustadz yang saat ini sangat ditunggu & jadi rujukan umat. Parameter yang digunakan sangat subjektif," kata akun @PrijantoRabbani, Jumat (18/5/2018).
"Tak ada Ustaz Somad dan Adi Hidayat di daftar Rekomendasi Kemenag ... Met berbuka, semoga Menag @lukmansaifuddin dan pejabat @Kemenag_RI terbuka mata hatinya. Ustad Adi Hidayat itu alumni UIN Jakarta, Jur Dirasat Islamiyah. Lulus D1 minimal harus hafal 8 juz," kicau akun @eae18.
"Menteri Agama mengeluarkan 200 list mubaligh tanpa memasukkan Ustadz Abdul Somad. Anda lebih percaya mana? Ustadz Abdul Somad, Menteri Agama?" demikian polling akun @maspiyuuu.
Hingga pukul 23.10 WIB, 6.420 warganet mengikuti polling ini. Hasilnya, 94% menyatakan lebih percaya Ustadz Abdul Somad, sementara yang memilih Menteri Agama hanya 6%.
Menag Lukman Hakim Saifuddin merilis list 200 nama mubalig pada Jumat (18/5/2018) ini melalui laman kemenag.go.id.
Menag mengaku, list itu diterbitkan untuk menjawab banyaknya pertanyaan dari masyarakat terkait nama mubalig yang bisa mengisi kegiatan keagamaan mereka.
Ia mengakui, semangat keberagamaan masyarakat Indonesia meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Forum pengajian dan majelis taklim semakin menjamur. Momentum Ramadan pun menambah semarak kegiatan keagamaan.
Kemeriahan kegiatan keagamaan di perkantoran bahkan tidak kalah dengan syiar di masjid, mushollah, dan majelis ta'lim.
"Selama ini Kementerian Agama sering dimintai rekomendasi mubalig oleh masyarakat. Belakangan, permintaan itu semakin meningkat, sehingga kami merasa perlu untuk merilis daftar nama mubalig," katanya.
Lukman mengaku, daftar 200 nama muballigh yang dirilis Kemenag ini merupakan tahap awal. Tidak sembarang mubalig dapat direkomendasikan kepada masyarakat.
"Setidaknya ada tiga kriteria yang mesti dipenuhi, yakni mempunyai kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, reputasi yang baik, dan berkomitmen kebangsaan yang tinggi," katanya.
Meski nama Ustad Abdul Somad, Bachtiar Nasir dan Ali Hidayat tak tercantum, nama seperti Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahniel Anzar Simanjuntak, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj tercantum.
Lukman mengaku, daftar nama ini merupakan rilis awal yang dihimpun dari masukan tokoh agama, ormas keagamaan, dan tokoh masyarakat. Jumlah daftar ini akan terus bertambah seiring masukan dari berbagai pihak.
"Nama yang masuk memang harus memenuhi tiga kriteria itu. Namun, para mubalig yang belum masuk dalam daftar ini, bukan berarti tidak memenuhi tiga kriteria tersebut. Artinya, data ini bersifat dinamis dan akan kami update secara resmi," jelasnya. (rhm)





