Jakarta, Harian Umum- Ketua Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis) Sugiyanto menilai, lima nama Capres dan sembilan nama Cawapres yang direkomendasikan Persaudaraan Alumni (PA) 212 dari hasil Rakornas-nya, Selasa (29/5/2018), akan memghasilkan pasangan kandidat seperti yang selama ini telah muncul ke permukaan.
Pasalnya, nama-nama yang diusulkan merupakan nama-nama yang selama ini beredar dan tak ada yang baru.
"Kalau dikaji secara mendalam, rekomendasi PA 212 itu mengarah kepada Prabowo sebagai Capres dan Aher (Ahmad Heryawan) atau Anies Baswedan sebagai Cawapresnya," kata dia kepada harianumum.com di Jakarta, Rabu (30/5/2018).
Lebih jauh dijelaskan, dalam daftar Capres, PA 212 mengusulkan nama Habib Rizieq Shihab, Prabowo Subianto, Tuan Guru Bajang (TGB), Yusril Ihza Mahendra, dan Zulkifli Hasan.
"Habib tidak pernah menyatakan ingin nyapres, dan dia juga telah diangkat sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia. Dengan posisinya ini, sangat kecil Habib menjadi Capres," jelas Sugiyanto.
Aktivis yang akrab disapa SGY ini juga mengatakan kalau TGB tak mungkin menjadi Capres karena dia hanya kader Partai Demokrat, bukan ketua umum partai itu.
"Yusril dan Zulkifli ketua umum PBB dan PAN, tapi PBB partai non parlemen, sementara jumlah kursi PAN di DPR tidak memungkinkan PAN mengusung Capres sendiri. Maka, jelas sekali kalau untuk Capres, PA 212 menginginkan Prabowo sebagai Capres karena cukup berkoalisi dengan PKS, Gerindra sudah bisa mengusung Prabowo yang merupakan ketua umumnya," imbuh SGY.
Dalam daftar Cawapres, PA 212 merekomendasikan sembilan nama:
1. Ahmad Heryawan
2. Hidayat Nur Wahid
3. Yusri Ihza Mahendra
4. Anis Matta
5. Zulkifli Hasan
6. Eggi Sudjana
7. Ustadz Bachtiar Nasir
8. Prabowo Subianto
9. Anies Baswedan
Menurut SGY, nama Prabowo dapat langsung dicoret. Begitupula dengan nama Eggi Sudjana dan Ustaz Bachtiar Nasir karena peluangnya teramat kecil.
"Yusril dan Zulkifli bisa saja menjadi Cawapres Prabowo, tapi jangan lupa, PKS telah mengusulkan sembilan nama ke Prabowo, dan dari sembilan nama itu, tiga nama ada dalam daftar, yakni Aher, Anis Matta dan Hidayat Nur Wahid," katanya.
Meski demikian, SGY menilai, dari tiga nama kader PKS itu, Aher lah yang paling mungkin karena Ketua Tim Pemenangan Pilpres 2019 Partai Gerindra, Sandiaga Uno, telah pernah melobinya untuk dipasangkan dengan Prabowo, dan Aher merespon positif.
"Tapi Anies yang ikut masuk daftar, bisa jadi kuda hitam. Dia didukung penuh pemilih Muslim, kaum Ibu serta pengusaha dan warga keturunan Arab. Namanya juga disebut-sebut sempat masuk radar Gerindra bersama mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo," katanya.
Maka, tegas SGY, rekomendasi PA 212 itu sebenarnya merekomendasikan dua komposisi Capres-Cawapres yang selama ini telah wara wiri di jagat perpolitikan Nasional, yakni Prabowo-Aher dan Prabowo-Anies Baswedan.
"Jadi, kalau kita kembalikan pada fakta bahwa Gerindra dan PKS merupakan mitra koalisi di Pilpres 2019, bisa jadi kalau rekomendasi itu diajukan ke Gerindra, PAN dan PKS yang tidak mengusung Jokowi di 2019, yang diusung ketiga partai itu adalah pasangan Prabowo-Aher," tegasnya.
Meski demikian SGY mengakui, tak ada yang tak mungkin dalam dunia politik, karena dunia yang satu ini sangat dinamis dan orientasi untuk menjadi pemenang dan penguasa lebih mendominasi dibanding yang lain.
Maka, kata dia, jika kita mengkaji bagaimana Anies memenangi Pilkada DKI Jakarta 2017 dan namanya kini dipuja umat Islam di Indonesia karena mampu menunjukkan diri sebagai pemimpin yang amanah, mampu menepati janji dan santun, Anies bisa saja dipilih menjadi pendamping Prabowo di Pilpres 2019.
"Jadi, sekarang tinggal kita tunggu setelah Lebaran, karena Gerindra akan mengumumkan siapa Cawapres pendamping Prabowo," pungkasnya. (rhm)






