Jakarta, Harian Umum - Meski terdapat berbagai permasalahan, tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu tahun 2019 sangat tinggi. Dari hasil Quick Count lembaga survey, partisipasi pemilih tercatat lebih dari 80 persen.
Tingginya partisipasi pemilih tersebut dinilai disebabkan karena penyelenggaraan Pemilu yang digelar serentak antara Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg). Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini.
"Kita harus memberikan apresiasi yang luar biasa pada antusias para pemilih pada Pemilu tahun ini. Pemilu 2019 menjawab akan pengguna hak pilih. Karena kalau berdasarkan perkembangan dan laporan sejauh ini dari lembaga Quick Count, tercatat sudah 80 persen tingkat partisipasi pemilih. Saya kira ini disebabka dari keserentarakan penyelenggaraan Pilpres dan Pileg," kata Titi di Jakarta, (27/4/2019)
Namun menurut Titi antusias pemilih di perkotaan dengan daerah memiliki perbedaan. Jika di perkotaan, antusiasme pemilih lebih condong pada penyelenggaraan Pilpres. Sementara di daerah, antusias pemilih lebih pada pelaksanaan Pileg.
"Polanya berbeda, di perkotaan untuk Pilpres antusiasnya luar biasa. Masyarakat datang untuk menyalurkan hak pilih untuk Pilpres. Antusias perkotaan dilengkapi dengan antusias di pedesaan, pedesaan dan daerah mural dimana pemilih Legislatif lebih dominan," ujar Titi.
"Tngginya partisipasi pemilih daerah dalam Pileg disebabkan ada interaksi intim antara Pemilih dengan peserta Pileg," sebut Titi.
Karena itu, Titi menyarankan agar semua pihak tidak menuding Pemilu serentak memiliki dampak negatif. Sehingga menyarankan agar penyelanggaraan Pileg dan Pilpres dipisah.
"Harus dilakukan evaluasi secara menyeluruh dulu terhadap sistemnya, variable-variable sistemnya, besaran daerah pemilihannya dan sebagainya. Dan juga manajemen serta tata kelola secara parsial," tandasnya. (Zat)







