Jakarta, Harian Umum - Aktivis yang juga Pemerhati Jakarta, Tobaristani, mengapresiasi rencana pengembangan jaringan transportasi TransJakarta hingga Kepulauan Seribu yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027.
Rencana itu dibahas PT Transjakarta dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta dalam rapat evaluasi bersama Komisi B DPRD DKI Jakarta pada 2 September 2026 silam. Kala itu Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Budi Awaluddin, menjelaskan bahwa langkah ini diambil guna meningkatkan mutu pelayanan transportasi air bagi warga Kepulauan Seribu.
"Jika rencana itu terealisasi, pengembangan jaringan transportasi TransJakarta hingga Kepulauan Seribu akan menjadi pencapaian penting dalam momentum 5 abad Jakarta pada tahun 2027," kata Toba melalui siaran tertulis, Rabu (9/9/2026).
Ketua FKDM DKI Jakarta periode 2023-2024 ini mengatakan, layanan transportasi laut di Kepulauan Seribu memang perlu ditingkatkan. Apalagi karena Kepulauan Seribu bukan hanya wilayah permukiman dengan gugusan pulau-pulau, akan tetapi juga merupakan kawasan wisata yang sangat diminati akibat panoramanya yang indah dan pemandangan bawah lautnya yang menakjubkan.
Pada tahun 2025 lalu, menurut data Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Kepulauan Seribu, wilayah Kepulauan Seribu dikunjungi wisatawan sebanyak 398.519 orang.
Namun, Toba mengingatkan agar pengembangan jaringan transportasi TransJakarta hingga Kepulauan Seribu tidak membuat kapal penumpang tradisional kehilangan ruang, karena kapal tradisional telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kepulauan Seribu selama puluhan tahun, dan selama ini ikut menopang mobilitas warga antarpulau di Kepulauan Seribu.
"Karena itu, pengembangan transportasi itu juga harus menjadi momentum untuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan pengusaha kapal tradisional, bukan menggantikannya. Jangan sampai kapal tradisional tersisih atau disisihkan. Mereka harus di-empower, ditingkatkan, sehingga jika hari ini pendapatannya Rp100 ribu, maka setelah bergabung atau masuk dalam jaringan pengembangan itu, pendapatannya bisa lebih tinggi dari Rp100 ribu,” tegas Toba.
Ia bahkan mengingatkan bahwa jika Transjakarta menyisihkan kapal tradisional, maka akan terjadi gejolak sosial dan mengancam eksistensi kapal tradisional yang semestinya dilestarikan.
"Maka, saran saya, sebaiknya kapal tradisional disinergikan, sehingga dapat menjadi pendukung atau penunjang sarana transportasi yang akan dioperasionalkan TransJakarta. Jika kondisinya dinilai kurang layak, bisa dilakukan pembinaan, ditingkatkan kualitas kapalnya, standar keselamatannya diperkuat, dan kebutuhan operasionalnya didukung," tegas Toba.
Ia mengingatkan, selama puluhan tahun beroperasi untuk menunjang mobilitas warga pulau dan wisatawan, kapal tradisional beroperasi dengan segala keterbatasannya.
"Biaya operasional mereka sekali perjalanan, besar sekali. Teman saya yang menjadi nakhoda kapal tradisional dengan rute Muara Angke–Pulau Pramuka/Panggang, pernah bilang bahwa untuk sekali perjalanan pulang pergi, dibutuhkan solar 400 liter. Dengan harga solar eceran sekitar Rp11.000/liter, hanya untuk biaya bahan bakar saja mencapai Rp4,4 juta. Belum biaya perawatan dan lain-lain," imbuh Toba.
Karena hal itu, Toba juga berharap pengembangan jaringan transportasi TransJakarta hingga Kepulauan Seribu menjadi momentum peningkatan dan perbaikan kapal tradisional.
"Karena itu, rencana TransJakarta harus disinergikan dengan kapal tradisional, jangan disingkirkan," tegas Toba.
Ia meminta Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau ulang jika pengembangan jaringan transportasi TransJakarta hingga Kepulauan Seribu justru mematikan kapal tradisional, karena bagaimanapun keberadaan kapal-kapal dari kayu itu merupakan bisnis yang bertujuan untuk menghidupi keluarga pemilik kapal dan karyawannya.
"Jangan sampai rencana pengembangan jaringan transportasi TransJakarta hingga Kepulauan Seribu itu membuat orang jatuh miskin, dan yang sudah miskin justru semakin miskin. Bila hal ini yang terjadi, maka Gubernur harus mengevaluasi Kepala Dinas Perhubungan dan jika perlu ganti Dirut TransJakarta," tegas Toba lagi.
Ia berharap Gubernur Pramono mendengar dan mempedulikan apa yang ia sampaikan ini.
"Gubernur harus pantau realisasi rencana pengembangan jaringan transportasi TransJakarta hingga Kepulauan Seribu sampai tuntas, dan pastikan tidak ada yang dirugikan, khususnya para pemilik kapal tradisional," sambung Toba.
Ia yakin, jika pengembangan jaringan transportasi TransJakarta hingga Kepulauan Seribu berhasil, dan kapal tradisional menjadi bagian dari pengembangan jaringan transportasi itu, nama Gubernur Pramono akan dicatat dengan tinta emas oleh penduduk Jakarta, khususnya penduduk Kepulauan Seribu.
"Dan yang lebih penting dari itu adalah bahwa warga Jakarta akan mencatat Gubernur Pramono Anung sebagai gubernur yang berhasil jaga Jakarta," pungkas Toba. (rhm)







