Jakarta, Harian Umum - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak main-main dengan ancamannya untuk menghancurkan ekonomi Iran setelah serangan militernya gagal membawa Iran kembali ke meja perundingan.
Pasalnya, sebagaimana diberitakan The Guardian, Trump bukan saja tengah melancarkan operasi penghancuran ekonomi Iran dengan mengisolasi ekonomi Negara Para Mullah itu, akan tetapi juga mengancam negara manapun yang membantu atau berbisnis dengan Iran.
“Hari ini saya mengumumkan operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun!” kata Trump di Truth Social-nya, sebagaimana dikutip The Guardian, Kamis (20/8/2026).
“Negara mana pun yang mengizinkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya untuk memberikan bantuan apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang luar biasa," imbuh Trump.
Presiden AS itu tidak menjelaskan konsekuensi luar biasa seperti apa yang di maksud, dan apakah ancaman itu juga berlaku bagi Rusia dan China yang merupakan sekutu Iran.
Seperti diketahui, Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerang Iran pada 28 Februari 2026 untuk menggulingkan Pemerintahan Revolusi yang sedang berkuasa di Iran. Namun, alih-alih akan dapat menaklukkan negara itu dalam hitungan hari atau minggu, ternyata perang dengan Iran saat ini sudah memasuki bulan keenam.
Dampaknya, banyak kota di Israel dihancurkan Iran, dan nasib serupa dialami pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk, seperti di Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA).
Tak hanya itu, perang selama enam bulan itu juga telah menguras persenjataan AS dan membuat anggaran negara itu tersedot hingga lebih dari 50 juta Dolar AS
Kondisi ini membuat Trump mengalami tekanan, sehingga karena akan menghadapi pemilihan paruh waktu pada November 2026, dia memutuskan untuk menghentikan serangan terhadap Iran. Apalagi karena serangan yang dilakukan selama dua minggu terakhir, gagal membawa para pejabat di Teheran untuk kembali ke meja perundingan.
Gedung Putih telah memberi sinyal dalam beberapa pekan terakhir tentang perubahan strategi untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada pekan lalu mengatakan bahwa AS akan mulai meningkatkan upaya untuk mengisolasi Iran secara ekonomi.
Selama berbulan-bulan, Departemen Keuangan AS telah melakukan upaya yang disebut Operasi Kemarahan Ekonomi, yang bertujuan untuk memutus pendanaan Iran dengan sanksi yang ditargetkan, sementara blokade angkatan laut di Selat Hormuz berupaya untuk memblokir pelabuhan Iran agar tidak mengekspor minyak yang sangat penting untuk menjaga perekonomian negara tetap berjalan.
Ekonomi Iran sudah menghadapi serangkaian sanksi berat dari AS dan negara-negara Barat selama bertahun-tahun, di mana saksi itu menghancurkan perekonomian Iran.
Namun, para ahli mengatakan para pemimpin Iran telah belajar beradaptasi dengan kebijakan seperti itu, termasuk dengan mengekspor minyak melalui jaringan kapal tanker bayangan yang canggih.
Dalam pengumumannya pada Rabu, Trump menyebutkan beberapa aktivitas Iran yang menurutnya perlu dihentikan segera, termasuk penyelundupan minyak, pertukaran mata uang, transfer uang tunai, rumah pertukaran, pendaftaran kapal, dan perusahaan fiktif.
Kata-kata dalam pengumuman Trump itu menunjukkan bahwa ia mungkin mengancam sanksi sekunder terhadap negara-negara yang membeli minyak Iran, tetapi para ahli mengatakan langkah seperti itu dapat menyebabkan konfrontasi langsung dengan China – mitra dagang terbesar Iran – pada saat AS sedang berupaya membangun hubungan perdagangan baru dengan Beijing.
"Langkah-langkah ekonomi baru apa pun yang dapat digunakan AS perlu diarahkan kepada mitra dagang Iran," kata Gregory Brew, analis senior di Eurasia Group.
Ia menambahkan bahwa akan "sulit bagi AS untuk mengarahkan tindakan tersebut kepada China, negara yang paling penting bagi masa depan ekonomi Iran".
Pemimpin Tiongkok Xi Jinping juga diperkirakan akan mengunjungi AS bulan depan, yang akan semakin mempersulit upaya apa pun untuk menargetkan impor minyak Iran oleh Beijing. (man)




