Jakarta, Harian Umum - Untuk menentukan besaran tarif dan subsidi MRT, Komisi C DPRD DKI Jakarta menggelar rapat bersama dengan Unit terkait.
Pemprov DKI Jakarta sebelumnya mengusulkan tarif MRT sebesar Rp 10.000 sedangkan LRT Rp 6.000. Usulan tarif tersebut berlaku pada MRT rute Lebak Bulus-Bundara HI dan LRT rute Kelapa Gading-Velodrome.
Sementara tarif keekonomian untuk MRT Jakarta sebenarnya Rp 31.659 per penumpang, sementara tarif keekonomian untuk LRT Jakarta yakni Rp 41.655. karena itu diperlukan subsidi untuk memangkas besaran tarif keekonomian tersebut.
Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Santoso mengatakan besaran tarif dan subsidi untuk MRT dan LRT tidak seimbang antara harga tarif yang dikenakan kepada masyarakat dengan besaran subsidi yang akan dibebankan pada APBD.
"Dari usulan tarif tersebut, kita lihat jomplang antara tarif yang diusulkan dengan tarif keekonomian. Dengan kejomplangan tersebut, beban subsidi dari APBD untuk meringankan tarif terlalu besar," kata Santoso di gedung DPRD DKI, Rabu (6/2/2019).
Menurut Santoso usulan tarif tersebut nantinya akan dibahas ulang dengan melihat dari berbagai aspek. "Kita ngga mau tarif MRT terlalu besar karena nantinya kalau kemahalan siapa yang mau naik MRT. Kalau terlalu murah, subsidi dari APBD terlalu besar," ujar Santoso.
Karena itu kata Santoso, pada pembahasan tarif dan subsidi MRT dan LRT kali ini, DPRD DKI belum bisa memberi keputusan. "Nanti kita akan melakukan pembahasan kembali setelah mengkaji besaran tarif dan subsidi dari berbagai aspek. Kita akan dalami dulu, jadi tidak bisa ujuk-ujuk langsung diputuskan besaran tarif dan subsidi MRT dan LRT," tandas politisi Demokrat tersebut. (Zat)







