Bandung, Harian Umum - Gerakan Aksi Ummat Melawan (GAUM) akan menggelar doa bersama di Mesjid Al Fadjr, Jalan Cicagra, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (16/4/2024) pukul 09.00 WIB.
Sebelumnya, pada 1 Maret 2024, GAUM menggelar aksi menolak Pemilu 2024 di KPUD dan Bawaslu Jabar, karena Pemilu itu dinilai curang secara terstruktur, sistimatis dan masif untuk memenangkan Paslon nomor urut 2 Prabowo-Gibran.
Menurut Koordinator GAUM, Ustaz Amin Bukhaeri, doa bersama besok akan melibatkan jejaring sekitar 40 Ormas, komunitas dan haroqah.
"Doa akan disampaikan oleh ulama kondang seperti KH. Atian Ali, dan beberapa ustad, serta akan ada mimbar orasi yang menampilkan wakil dari tokoh Jabar, akademisi, purnawirawan, aktivis, Gen Z, dan aktivis BEM," imbuh Ustaz Amin seperti dikutip dari siaran pers yang diterima harianumum.com.
Menurut dia, saat ini kondisi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Karenanya, masyarakat dipersilakan untuk hadir dan ikut berdoa bersama di bulan Ramadhan ini untuk keselamatan bangsa.
"Selanjutnya akan dibahas partisipasi aksi yang diadakan oleh berbagai Ormas di Jakarta, baik di DPR maupun di KPU pada tanggal 18 dan 19 Maret," imbuh Ustaz Amin
Syafril Sjofyan, salah seorang pengarah/SC GAUM menjelaskan, kegiatan doa bersama ini merupakan kegiatan yang sangat positif karena sebagai bentuk berserah diri dan meminta petunjuk serta pertolongan Allah SW.
"Ini patut menjadi contoh bagi ummat untuk menyelenggarakan kegiatan yang sama," katanya
Dia mengakui, sebenarnya rakyat berharap akan dapat memilih pemimpin bangsanya melalui proses Pemilu yang Jurdil (jujur dan adil), tetapi apa yang terjadi?
Karena haus akan kekuasaan, rezim membangun dinasti dan menghalalkan segala cara untuk terus berkuasa, termasuk dengan membangun dinasti, melakukan pelanggaran etika berat di MK untuk meloloskan anak pemimpin rezim (Presiden Jokowi) menjadi Cawapres, dan melakukan kecurangan secara brutal, termasuk melalui Sistim Informasi Rekapitulasi (Sirekap) KPU yang algoritmanya diduga didesain sedemikian rupa demi memenangkan sang Anak dengan perolehan suara yang sesuai dengan hasil quick count, yakni di angka 58 pereenan.
“Kondisi ini jelas mengkhianati bangsa, membuat rakyat resah dan sangat khawatir. Sekarang maupun ke depan bangsa ini akan rusak dengan munculnya pemimpin melalui kecurangan. Untuk itu kepada Allah SWT kita memohon pertolongan," pungkas Syafril. (rhm)







