Jakarta, Harian Umum - Di penutupan tahun 2017, Wakil Ketua partai Gerindra Fadli Zon mengkritik pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Ia menilai pembangunan yang dilakukan pemerintah sekarang tidak memiliki misi visi dan konsep yang jelas dari awal.
Ini dapat dilihat dari jargon yang di usung Revolusi Mental, tetapi dalam kenyataannya melakukan pembangunan fisik (infrastruktur) yang ditandai dengan besarnya hutang yang ada sekarang untuk membangun.
"Ini bisa kita lihat dari jargon yang dibangun. Saat naik, pemerintah mengusung jargon Revolusi Mental, seolah itu akan jadi blue print kerja selama lima tahun. Tapi kemudian mereka bangun ternyata adalah infrastruktur fisik. Jadi, antara wacana yang diproduksi dengan praktik yang dikerjakan tidak nyambung," kata Fadli dalam lirisnya, Minggu (31/12/2017).
Fadli mengira Revolusi Mental adalah gagasan untuk pembangunan sumber daya manusia yang dicetus oleh David Korten. Gagasan itu adalah kritik terhadap konsep pembangunan ekonomi yang berorientasi mengejar pertumbuhan dengan mengabaikan aspek pembangunan manusia dan lingkungan.
"Ternyata salah. Pemerintah sendiri bahkan tak pernah menyebut lagi jargon Revolusi Mental tersebut," kata Fadli.
Inkonsistensi juga, jargon pembangunan maritim yang pertama banyak diberitakan kini pemerintah justru lebih fokus membangun infrastruktur di darat.
"Mau mengembalikan kejayaan ekonomi maritim tapi kok yang dibangun adalah jalan tol di darat? Lebih aneh lagi, pemerintah malah hendak melepas pengelolaan 20 pelabuhan ke pihak swasta," ujar Fadli.
Bagi Fadli, inkonsistensi serta paradoks pembangunan menunjukkan pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah selama ini sebenarnya memang tak punya konsep. Tak mengherankan jika sepanjang tahun 2017 ini rapor ekonomi pemerintah cukup buruk.(tqn)







