Jakarta, Harian Umum - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot terus melemah hingga akhir perdagangan hari ini, Selasa (27/10/2026), dan makin mendekati level terendah yang dicetak pada awal Juni 2026.
Dikutip dari Bloomberg, rupiah ditutup melemah 21 poin atau 0,12% dari penutupan Senin yang berada di Rp18.135/dolar AS, sehingga jatuh ke posisi Rp18.156/dolar AS.
Meski demikian, hingga pukul 15.00 WIB, peso Filipina menjadi mata uang di Asia Tenggara dengan pelemahan paling dalam, yakni 0,38%, sementara Ringgit Malaysia relatif stabil, baht Thailand menguat 0,04% dan won Korea menguat hingga 0,32%.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah hingga menembus level Rp 18.100/dolar AS belum dapat langsung diartikan sebagai indikasi krisis fundamental ekonomi Indonesia.
Namun, kata dia, kondisi itu menjadi sinyal bahwa ketahanan eksternal Indonesia sedang menghadapi tekanan yang semakin berat.
"Jadi, level Rp18.100 belum dapat disimpulkan sebagai indikasi krisis fundamental, tetapi menjadi sinyal bahwa ketahanan eksternal Indonesia sedang menghadapi pengujian yang semakin berat," katanya kepada Kompas.com, Selasa (27/10/2026).
Menurut Josua, salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah proyeksi defisit transaksi berjalan Indonesia.
Bank Indonesia (BI) telah merevisi proyeksi defisit transaksi berjalan 2026 menjadi 1,6–2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih lebar dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 0,5–1,3 persen.
"Artinya, kebutuhan pembiayaan eksternal meningkat ketika kondisi pendanaan global justru semakin ketat," jelasnya.
Meski demikian, Josua menegaskan Indonesia masih memiliki sejumlah penyangga ekonomi, antara lain cadangan devisa yang tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS pada September 2026, setara dengan 5,3 bulan impor.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran 5 persen.
"Arus modal asing juga tidak seluruhnya keluar karena instrumen SBN dan SRBI masih mencatatkan aliran masuk, meskipun pasar saham mengalami tekanan," imbuhnya
Dia menilai, tekanan terhadap rupiah saat ini bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, karena pelemahan mata uang Garuda merupakan dampak dari kombinasi guncangan eksternal dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko pasar keuangan domestik.
"Akibatnya, rupiah menjadi lebih sensitif terhadap perubahan sentimen, bahkan ketika belum terdapat perubahan fundamental ekonomi yang besar dalam satu hari perdagangan," katanya.
Sejumlah faktor yang memengaruhi antara lain ekspektasi kebijakan suku bunga AS yang tetap ketat, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meningkatnya risiko geopolitik.
Tekanan tersebut juga tercermin dari kombinasi meningkatnya ketegangan geopolitik yang menyebabkan lonjakan harga minyak dunia.
Harga minyak mentah Brent yang masih berada di atas 110 dolar AS/barel di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut memperbesar risiko bagi perekonomian Indonesia, karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi, sekaligus memperbesar tekanan terhadap neraca transaksi berjalan.
Di sisi lain, ketidakpastian terkait peninjauan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI turut memengaruhi kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan domestik dan berlanjutnya arus modal asing keluar.
"Faktor domestik, khususnya penjualan saham oleh investor asing, juga berperan penting," ujar Josua. (man)







