Jakarta, Harian Umum - Tiga organisasi nonpemerintah (Ornop), yakni Pusaka Indonesia, Nusantara Center dan Persaudaraan Matahari menyelenggarakan Pagelaran Pancasila Sakti di auditorium RRI, Jalan Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (1/10/2023).
Acara ini menampilkan orasi politik ekonomi, orasi kebudayaan, tari, band dan sendratari berjudul Amukti Palapa.
'Acara ini merupakan acara puncak dari kelas online bertema Pikiran Para Pendiri Republik. Nah, acara ini adalah penutupan di mana temanya adalah Membangkitkan Kembali Mentalitas Pancasila," jelas Direktur Nusantara Center, Prof. Yudhie Haryono, di sela-sela acara.
Ia mengakui kalau Pagelaran Pancasila Sakti ini dikemas untuk membangkitkan kembali kesadaran dan pemahaman bahwa Indonesia adalah Negara Pancasila, Bangsa Pancasila, dan Agensi Pancasila, sehingga harus menghasilkan mentalitas Pancasila, dan karakter sekaligus patriot Pancasila.
Selain itu, katanya, acara ini juga dikemas untuk menggugah agar pemerintah mau menghidupkan kembali kurikulum Pancasila dalam pendidikan formal, karena kurikulum itu telah dihapuskan.
"Karena bagaimanapun negara kita tidak bisa berdiri tanpa ada mata kuliah Pancasila," katanya
Sesuai ketentuan panitia, tak sedikit dari ratusan undangan yang hadir, datang dengan mengenakan pakaian daerah dari berbagai provinsi di Tanah Air.
Acara ini juga dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya inisiator Forum Negarawan Eko Sriyanto Galgendu.
Saat menyampaikan orasi politik ekonomi Prof Yudhie membeberkan tentang kehadiran bangsa asing di Indonesia yang "merampok" kekayaan alam Indonesia, termasuk rempah-rempah, dan membuat bangsa Indonesia kini dalam situasi darurat nasional karena intervensi bangsa asing itu bahkan telah membuat ideologi Pancasila digantikan dengan ideologi kapitalis.
"Maka, tak ada cara lain untuk mengatasi darurat nasional ini selain dengan menumbuhkan kembali kesadaran ber-Pancasila," katanya.
Hal yang tak jauh berbeda disampaikan Ketua Umum Pusaka Indonesia, Setyo Hajar Dewantoro, saat menyampaikan orasi kebudayaan. Ia mengingatkan hadirin tentang pentingnya menghadirikan Pancasila dalam diri setiap bangsa Indonesia dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, karena Pancasila adalah ideologi bangsa, dan dengan mengamalkan Pancasila dengan murni dan konsekuen, Indonesia bisa menjadi negara mercusuar dunia.
Untuk diketahui, sejak UUD 1945 diamandemen menjadi UUD 2002 bangsa Indonesia memang seperti tercerabut dari akarnya karena amandemen itu mengubah sistem kenegaraan dari sistem Pancasila ke sistem Kapitalis.
Sejalan dengan perubahan sistem kenegaraan tersebut, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan. PP ini menghapus pendidikan Pancasila dari sistem pendidikan tinggi. (rhm)







