Teheran, Harian Umum - Iran kembali menggempur aset dan fasilitas Amerika Serikat (AS) di Bahrain dan Kuwait, Rabu (22/7/2026) sebagai balasan atas serangan AS terhadap negaranya yang berlangsung beruntun dalam 10 hari terakhir.
Tasnim melaporkan, di Bahrain, Iran kembali menggempur Amazon, perusahaan Amerika. Kali ini yang digempur data Web Services-nya.
"Angkatan Bersenjata Iran mengumumkan bahwa mereka menargetkan infrastruktur data Amazon Web Services di Bahrain. Mereka menggambarkan fasilitas tersebut sebagai "mata digital" Komando Pusat AS (CENTCOM) dan pusat utama untuk memproses dan bertukar data militer," kata Tasnim.
Lebih spesifik, Angkatan Bersenjata Iran mengatakan, serangan yang dilakukan dalam Operasi Nasr-2 gelombang yang ke-24 itu menargetkan wilayah cloud Amazon Web Services (AWS) yang diidentifikasi sebagai 'me-south-1', dan diluncurkan pada tahun 2019.
"AWS merupakan pusat pemrosesan data khusus pertama perusahaan di Timur Tengah dan merupakan "mata digital" bagi CENTCOM dan arteri utama pemrosesan intelijen untuk Washington dan sekutunya di Teluk Persia," jelas Angkatan Bersenjata Iran.
Amazon diketahui merupakan salah satu dari empat kontraktor utama di bawah program Joint Warfighting Cloud Capability (JWCC) Departemen Pertahanan AS. Dengan kontrak senilai $9 miliar, AWA memungkinkan Pentagon untuk mengerahkan komputasi awan, analitik data, dan alat kecerdasan buatan di seluruh front operasional dan pangkalan militer regional.
Di sisi lain, Tas jm juga melaporkan bahwa Iran melakukan serangan ke gudang amunisi dan peralatan logistik milik Komando Pasukan Darat AS di Kamp Doha, Kuwait barat, dengan drone.
Serangan ini merupakan bagian dari fase ke-21 Operasi Saeqeh.
"Militer Iran mengatakan, operasi ini dilakukan sebagai respon atas serangan berulang kali oleh Amerika Serikat terhadap wilayah-wilayah di Iran," kata Tasnim.
Kamp Doha, menurut pernyataan Tentara Iran, adalah salah satu pangkalan militer AS terbesar dan terpenting di Kuwait barat yang berfungsi sebagai pusat logistik untuk mendukung pasukan AS yang ditempatkan di seluruh Asia Barat.
Kamp tersebut juga menampung sejumlah besar peralatan dan personel milik Angkatan Darat AS, serta angkatan laut dan udara AS.
"Angkatan Bersenjata Iran menegaskan kembali bahwa mereka "siap menghadapi dengan tegas setiap konspirasi atau petualangan baru oleh musuh, dalam kerangka persatuan suci," kata Tasnim.
Angkatan Darat Iran juga menegaskan kembali bahwa serangan-serangan mereka dilakukan sebagai tanggapan terhadap "serangan berulang dari musuh yang jahat" terhadap beberapa wilayah di Iran.
Untuk diketahui, dalam 10 malam berturut-turut, militer AS melakukan gelombang serangan udara mematikan terhadap Iran, menargetkan situs-situs sipil, seperti jembatan dan pelabuhan.
Serangan AS ini dipicu tindakan Iran yang menembaki kapal-kapal tanker yang mencoba melewati Selat Hormuz, karena selat itu memang ditutup Iran karena AS dinilai telah melanggar nota kesepahaman yang diteken pada 18 Juni 2026 lalu, karena AS membiarkan Iran terus menggempur Lebanon, meski dalam nota kesepahaman disebut bahwa Lebanon termasuk wilayah yang masuk kesepakatan gencatan senjata. (man)







