Teheran, Harian Umum - Iran mengeklaim sepenuhnya siap menghadapi skenario apapun yang dijalankan Amerika Serikat (AS) untuk dapat mengendalikan dan menguasai Selat Hormuz.
Terakhir, pada Minggu (3/5/2026), Presiden AS Donald Trump mengumumkan pihaknya akan menggelar Project Freedom atau Proyek Kebebasan pada Senin (4/5/2026), yang bertujuan untuk mengawal kapal-kapal dari negara netral atau kapal-kapal yang tidak terlibat perang yang ia dan PM Israel Benjamin Netanyahu kobarkan terhadap Iran sejak 28 Februari lalu, untuk dapat melewati Selat Hormuz.
Saat ini, akibat tidak diizinkan melewati selat yang menjadi jalur pemasok 20% kebutuhan minyak dan gas alam cair global tersebut, ratusan kapal terdampar di Teluk Persia dan Laut Oman karena Selat Hormuz ditutup Iran sejak 28 Februari. Kapal-kapal itu tidak diizinkan lewat karena dianggap sebagai bukan negara sahabat Iran, termasuk kapal tanker milik Pertamina.
Penutupan selat stategis itu dan tertahannya ratusan kapal, membuat harga minyak dan harga gas alam cair meroket, dan memicu krisis energi di banyak negara, termasuk di AS. Inilah yang membuat Trump merilis Proyek Kebebasan.
"Kami sepenuhnya siap menghadapi skenario apa pun di Selat Hormuz dan telah melancarkan tembakan awal terhadap sejumlah kapal militer AS," kata sumber Tasnim News Agency di militer Iran, dilansir media itu Selasa (5/5/2026).
Sumber terpercaya itu mengatakan, Amerika tahu Iran takkan membiarkan "intimidasi" oleh Trump dan pasukannya.
Mengacu pada tembakan awal yang dilepaskan oleh pasukan Iran ke sejumlah kapal tempur AS, sumber tersebut mengatakan, “Angkatan Bersenjata Iran, seperti selama perang 40 hari, tidak akan mengizinkan lewatnya pasukan tempur Amerika, dan pergerakan apa pun melalui Selat Hormuz tidak akan terjadi tanpa izin dari Angkatan Bersenjata Iran".
Sumber tersebut menegaskan bahwa semua kapal harus belajar dari pengalaman perang 40 hari dan menghindari membayar harga atas "kebodohan Amerika".
“Selain menembak kapal tempur AS, Iran juga telah menyiapkan skenario lain yang akan diterapkan jika perlu,” imbuh sumber tersebut.
Sebelumnya, Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, memperingatkan bahwa setiap kekuatan militer asing, khususnya AS, akan diserang jika mencoba mendekati atau memasuki Selat Hormuz.
“Kami akan menjaga dan mengelola keamanan Selat Hormuz dengan kemampuan penuh, dan menyarankan semua kapal komersial dan kapal tanker minyak untuk menahan diri dari upaya apa pun untuk melewati Selat Hormuz tanpa koordinasi dengan Angkatan Bersenjata (Iran) yang ditempatkan di sana agar tidak membahayakan keamanan mereka,” kata jenderal tinggi tersebut.
Lebih jauh, menyikapi Proyek Kebebasan Trump, sejak Senin Iran mengumumkan zona kendali maritim baru di Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan bahwa pihaknya telah mendeklarasikan area kendali maritim baru di Selat Hormuz yang disebut sebagai 'Zona Kendali Cerdas'. Oleh Angkatan Bersenjata Iran, 'Zona Kendali Cerdas' di Selat Hormuz didefinisikan sebagai berikut:
- Di selatan: zona itu berada di garis antara Gunung Mobarak di Iran dan selatan Fujairah di Uni Emirat Arab;
Di barat: zona cerdas itu berada di garis antara ujung Pulau Qeshm di Iran dan Umm Al Quwain di Uni Emirat Arab.
Zona Cerdas ini diyakini dapat mempersulit AS dalam menjalankan Proyek Kebebasan-nya. (man)







