Teheran, Harian Umum - Unit Pertahanan Udara Iran mengeklaim telah menembak jatuh 5 drone Hermes canggih milik Israel di atas pantai selatan negara Zionis itu.
"Departemen Hubungan Masyarakat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pada hari Minggu bahwa lima drone Hermes dihancurkan kemarin oleh Basij dari Angkatan Darat IRGC dan penduduk asli Hormozgani di pantai selatan negara itu," kata Tasnim News Agency dikutip Senin (30/3/2026).
Menurut kantor berita semi-resmi Iran itu, berikut kelima drone tersebut, total drone Israel yang telah ditembak jatuh sejak perang dengan Iran dikobarkan Amerika dan Israel pada tanggal 28 Februari 2026, hampir mencapai 140 unit.
"Sementara jumlah jet tempur generasi F canggih musuh (AS) yang terkena dan dihancurkan juga mencapai angka dua digit," imbuh Tasnim.
Diproduksi oleh Elbit Systems milik rezim Zionis, Hermes 900 adalah UAV dengan daya tahan lama yang dirancang untuk misi taktis seperti pengintaian dan pengawasan.
Drone besar ini bernilai sekitar $10 juta.
AS dan Israel serang universitas Iran
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengecam serangan AS-Israel yang menghancurkanu pusat-pusat pendidikan dan akademik Iran.
Ia menilai, tindakan AS dan Israelmenargetkan para ilmuwan dan universitas Iran mencerminkan "keputusasaan" kedua agresor tersebut, akan tetapi Araqchi memastikan bahwa serangan seperti itu tidak akan menghentikan kemajuan ilmiah Iran.
“Israel dan AS percaya bahwa pengetahuan dapat dihancurkan dengan bom. Hal itu tercermin dalam pembunuhan para ilmuwan Iran dan serangan terhadap situs nuklir Iran, dan sekarang universitas,” kata Araqchi melalui akun X-nya dikutip Senin (30/3/2026).
“Realita: tindakan Anda menunjukkan keputusasaan dan hanya akan memicu lebih banyak pencarian pengetahuan,” imbuhnya.
Saat ini perang antara AS-Israel kontra Iran semakin memanas dengan posisi Iran berada di atas angin karena mampu meluluhlantakkan kota-kota di Israel, termasuk Tel Aviv, dan mampu menghancurkan 13 pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Iran juga pada Minggu (29/3/2026) menghancurkan pesawat pengintai canggih AS, yaitu AWACS E-3 AS, di pangkalan Arab Saudi.
.
Di Amerika Sendiri, Presiden Donald Trump yang menjadi pemicu perang, mendapat tekanan hebat dari rakyatnya karena jutaan warga Amerika bereno menuntut Trump mundur karena menganggap serangan AS dan Israel ke Iran merupakan kesalahan.
Sebab, perang itu memicu krisis energi karena Iran menutup Selat Hormuz dan hanya mengizinkan negara sekutunya melewati selat yang menjadi jalur kontribusi 20 persen minyak dan gas cair dunia itu. (man)





