Jakarta, Harian Umum - Nilai tukar rupiah kembali menguat pada penutupan perdagangan Rabu (10/6/2026), dipicu kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang direspon positif oleh pasar.
Akan tetapi pada perdagangan besok dan seterusnya, rupiah masih berpotensi menapaki kisaran Rp18.000/dolar AS
Menurut data Bloomberg, rupiah ditutup pada posisi Rp17.944/dolar AS, menguat 114 poin atau 0,63%.
Sementara data Investing menunjukkan, rupiah menguat 11,3 poin atau 0,06% dari penutupan Selasa yang berada di Rp17.916,7/dolar AS, sehingga pada penutupan Rabu berada di posisi Rp17.905,5/dolar AS
Di sisi lain, data TradingView menunjukkan rupiah ditutup menguat 1,08% ke level Rp17.940/dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, penguatan tajam rupiah didorong oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap langkah Bank Indonesia yang dinilai masih membuka ruang kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Selain itu, kebijakan pemerintah menaikkan harga Pertamax turut dipandang positif bagi rupiah karena berpotensi memperbaiki keseimbangan eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi.
Momentum positif tersebut dinilai masih dapat berlanjut pada perdagangan besok selama tidak muncul tekanan eksternal yang signifikan, terutama dari perkembangan konflik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia.
Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa rilis data inflasi Amerika Serikat berpotensi membatasi penguatan rupiah.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga masih menantikan data penjualan ritel April 2026.
"Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.000 pada perdagangan Kamis (11/6/2026)," kata Lukman dikutip dari Bisnis. (man)







