Teheran, Harian Umum - Dua kapal tanker meledak ketika melewati rute yang tidak aman di Selat Hormuz, dan terpaksa berhenti di lokasi tempatnya meledak.
Hal ini diketahui dari keterangan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Senin (20/7/2026), sebagaimana dikutip Al Mayadeen.
"IRGC pada Senin pagi (waktu setempat) mengabarkan bahwa dua kapal tanker minyak yang mencoba melewati rute yang tidak aman di Selat Hormuz terkena ledakan dan terpaksa berhenti," kata media itu.
IRGC menjelsskan kedua kapal itu mencoba memasuki dan keluar dari Selat Hormuz karena "dihasut" dan "ditekan" AS.
"IRGC menggambarkan, ritebyang dilalui kedua kapal tanker itu tidak aman dan rawan kecelakaan, dan telah melanggar peringatan yang diberikan Iran," imbuh Al Mayadeen.
Namun, IRGC tidak menjelaskan tentang identitas kedua kapal tersebut, apa penyebab ledakan, dan apakah ada korban jiwa.
Sementara itu, dari informasi yang disampaikan Kantor Berita Tasnim berdasarkan keterangan Angkatan Laut IRGC diketahui bahwa saat itu ada empat kapal yang mencoba meninggalkan Selat Hormuz dengan cara "ilegal", karena tanpa koordinasi dengan IRGC..
"Dua kapal terlibat dalam insiden dan terpaksa berhenti, sementara dua kapal lainnya meninggalkan jalur mereka dan berbalik untuk kemudian pergi melalui jalur yang tidak aman," kata Tasnim.
Tidak dijelaskan insiden seperti apa yang dimaksud, akan tetapi diinformasikan bahwa keempat kapal itu mencoba menerobos Selat Hormuz dengan mematikan sistem navigasi.
"Mereka mengabaikan peringatan yang diberikan berulang kali oleh Pangkalan Kontrol Selat Hormuz Angkatan Laut IRGC sebelum mencoba meninggalkan jalur air strategis tersebut melalui jalur yang tidak aman," kata Tasnim.
Seperti diketahui, Iran menutup kembali Selat Hormuz setelah menganggap AS dan Israel melanggar nota kesepahaman yang diteken pada 18 Juni 2026, dan menembaki serta mengusir setiap kapal yang mencoba melalui selat yang menjadi jalur pasokan 20% minyak global tersebut. Sikap Iran ini membuat AS marah dan melakukan serangan masif ke berbagai wilayah di Iran, dan dibalas Iran dengan menembaki pangkalan militer AS di seluruh kawasan Asia Barat, bahkan hingga Yaman dan Bahrain.
AS sejak awal meminta Iran membuka Selat Hormuz dan tidak "menguasai" jalur penting itu, karena penutupan Selat Hormuz mengganggu pasokan minyak global dan membuat harga minyak dunia meroket, serta memicu krisis energi di banyak negara.
Namun, Iran yang marah karena negaranya kembali diserang, bahkan infrastrukturnya, seperti jembatan dan sarana transportasi dijadikan target, bersumpah bahwa tidak setetes pun minyak akan keluar dari kawasan Teluk.
Wakil Komandan Urusan Politik IRGC, Brigadir Jenderal Yadollah Javani, mengatakan bahwa AS mulai putus asa karena gagal membalikkan kemenangan Teheran atas Selat Hormuz, karena segala upaya AS untuk dapat mengendalikan selat strategis itu akan berakhir sia-sia.
"Kontrol Iran atas jalur air strategis tersebut telah secara fundamental mengubah keseimbangan kekuatan regional," kata Javani dikutip Fars dari FNA.
Menurut dia, AS mencoba menantang tatanan baru Iran di jalur vital tersebut melalui serangkaian provokasi militer dan blokade angkatan laut, akan tetapi Iran kukuh menegaskan bahwa pihaknya tidak akan pernah mengizinkan Washington untuk ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz.
Teheran juga telah memperingatkan bahwa ekspor minyak dan gas regional dapat diblokir sepenuhnya sebagai tanggapan atas upaya AS untuk mengendalikan Selat Hormuz, dan akan tetap ditutup sampai Washington menerima syarat-syarat Teheran untuk membuka kembali jalur air strategis tersebut.
"Amerika Serikat berusaha mengimbangi kekalahan mereka melalui aksi militer dan mengembalikan Selat Hormuz ke kondisi sebelum perang, tetapi mereka pasti tidak akan berhasil," kata Javani.
"Mereka tidak hanya gagal mencapai tujuan yang telah dirancang, tetapi gempa geopolitik telah terjadi di kawasan ini, dan itu adalah dominasi dan kendali Iran atas Selat Hormuz," tegasnya. (man)







