Jakarta, Harian Umum - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan, Teheran akan melanjutkan jalur negosiasi jika yakin Amerika Serikat (AS) dapat serius dan siap untuk mencapai kesepakatan yang adil dan seimbang.
Berbicara pada konferensi pers di New Delhi pada Jumat (15/5/2026), Araqchi mengatakan bahwa ini adalah kali kedua Iran memulai negosiasi dengan AS, hanya untuk kemudian Washington melancarkan serangan di tengah pembicaraan dan di puncak diplomasi, yang ia sebut sebagai sesuatu yang sangat disayangkan.
"Ia mengatakan Iran saat ini berada dalam situasi gencatan senjata, meskipun gencatan senjata tersebut masih sangat rapuh, dan mencatat bahwa Teheran berusaha untuk mempertahankannya guna menciptakan peluang bagi diplomasi dan solusi yang dinegosiasikan," demikian dilaporkan Tasnim News Agency dikutip Sabtu (16/5/2026).
Araqchi mengingatkan bahwa tidak ada solusi militer untuk Iran, dan negaranya itu juga tidak pernah menyerah pada tekanan atau ancaman. Hal itu dibuktikan dengan telah banyaknya Iran melawan agresi, tekanan, dan sanksi.
Araqchi juga mengingatkan bahwa setelah 40 hari perang, dan AS kecewa karena tidak mencapai tujuannya melalui agresinya bersama Israel terhadap Iran, Washington sekali lagi mengusulkan negosiasi.
"Iran tertarik pada negosiasi, tetapi hanya jika pihak yang ingin bernegosiasi serius dan benar-benar menginginkan pembicaraan yang adil dan berimbang," kata Tasnim mengutip Araqchi.
Menlu Iran itu menegaskan bahwa terkait negosiasi itu, isu utamanya saat ini adalah kepercayaan, dan Iran tidak dapat mempercayai Amerika, sehingga negosiasi yang dilakukan harus didefinisikan secara tepat, jelas, dan transparan agar kesepakatan dapat terwujud.
"Negosiasi tersebut mengalami masalah karena kurangnya kepercayaan dan adanya pesan-pesan yang kontradiktif dari AS," tegas Araqchi.
Ia menuding bahwa Washington kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan baru yang kadang bertentangan dengan kenyataan di lapangan maupun dengan pernyataan Washington yang sebelumnya, dan hal itu meningkatkan ketidakpercayaan Iran, serta membuat Iran ragu pada niat Amerika yang sebenarnya.
Araqchi menegaskan bahwa Iran tidak pernah berupaya memiliki senjata nuklir sebagaimana dituduhkan AS dan Israel, dan Teheran membuktikan hal ini dengan menandatangani perjanjian nuklir tahun 2015.
"Program nuklir Iran selalu untuk tujuan damai dan Iran secara konsisten siap membangun kepercayaan mengenai sifat damainya," tegas Araqchi.
Mengacu pada bahan nuklir Iran yang diperkaya, ia menggambarkan masalah tersebut sebagai sangat rumit dan mengatakan Iran dan AS telah menyimpulkan bahwa, karena mereka hampir mencapai jalan buntu pada masalah khusus ini, akan lebih baik untuk menunda diskusi tentang hal itu ke tahap negosiasi selanjutnya.
Ia mengatakan bahwa isu tersebut saat ini tidak termasuk dalam agenda pembicaraan, tetapi akan dibahas pada fase selanjutnya, ketika Iran secara alami akan mengadakan konsultasi lebih lanjut dengan Rusia untuk menentukan apakah proposal Moskow dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut.
Araqchi juga menyambut baik bantuan dari negara mana pun yang dapat membantu proses penyelesaian, khususnya China.
Ia mencatat bahwa China sebelumnya telah memainkan peran positif dalam memulihkan hubungan antara Iran dan Arab Saudi, serta mengatakan bahwa Teheran dan Beijing menikmati hubungan yang sangat baik sebagai mitra strategis.
Menurut Araqchi, Iran percaya bahwa China memiliki niat baik dan akan menyambut baik setiap upaya China yang bertujuan membantu diplomasi.
Ia juga menyatakan harapan bahwa kemajuan dalam negosiasi pada akhirnya akan mengarah pada keamanan penuh di Selat Hormuz dan pemulihan lalu lintas maritim yang lebih cepat ke kondisi normal. (man)







